-->
Motivasi Menulis

Tuhan Para Filosof (Filosof Turki Abu Nasr Al-Farabi)

www.filsafat-logika.com
Gambar Ilustrasi
Filsafat, Logika dan Kepercayaan. Beberapa hari yang lalu kita telah membahas pemahaman para filosof yaitu Yaqub ibn Ishaq Al-Kindi dan AbuBakar Muhammad Zakaria Al-Razi mengenai Tuhan. Pada kesempatan kali ini kita akan sedikit membahas Tuhan menurut Faylasuf Turki Abu Nasr Al-Farabi (w. 980) yang berhadapan dengan persoalan massa yang tak berpendidikan, yang tidak cukup mampu untuk menerima rasionalisme filosofis. Al-Farabi dapat dianggap sebagai pendiri falsafah autentik dan menunjukkan universalitas atraktif dari cita-cita Muslim ini. Dia dapat kita sebut sebagai seorang Manusia Renaisans; dia bukan hanya seorang ahli kedokteran tetapi juga seorang musisi dan mistikus. Dalam karyanya Ara'Ahl Al-MadinahAl-Fadhilah, dia juga memperlihatkan kepedulian sosial dan politik yang merupakan hal penting dalam spiritualitas Muslim. Dalam Republic,Plato pernah mengemukakan bahwa suatu masyarakat yang baik mesti dipimpin oleh seorang filosof yang memerintah sesuai dengan prinsip-prinsip rasional dan mampu menjelaskan' prinsip-prinsip itu kepada orang awam. Al-Farabi berpendapat bahwa Nabi Muhammad Saw. adalah seorang pemimpin yang persis seperti dimaksudkan Plato. Beliau telah mengungkapkan kebenaran universal dalam bentuk imajinatif yang dapat dipahami orang awam, sehingga Islam secara ideal cocok dengan masyarakat yang dicita-citakan Plato. Syiah mungkin merupakan bentuk Islam yang paling cocok untuk menjalankan proyek ini, karena kultus mereka tentang imam sebagai pemimpin yang arif. Meskipun mengamalkan ajaran Sufi, Al-Farabi memandang wahyu sebagai proses yang sepenuhnya alamiah. Tuhan para filosof Yunani yang jauh dari persoalan-persoalan manusia, tidak mungkin "berbicara kepada" manusia dan campur tangan di dalam urusanurusan keduniaan, seperti yang disiratkan oleh doktrin tradisional tentang wahyu. Namun ini tidak berarti bahwa Tuhan jauh dari pokok kajian Al-Farabi. Tuhan merupakan sesuatu yang sentral dalam filsafatnya, dan risalahnya dimulai dengan pembahasan tentang Tuhan. Tuhan dalam pandangan Al-Farabi sesuai dengan konsepsi Aristoteles dan Plotinus: dialah Yang Pertama dari semua wujud. Seorang Kristen Yunani yang terbiasa dengan filsafat mistis Denys Aeropagite akan berkeberatan terhadap teori yang dengan begitu saja menganggap Tuhan sebagai sekadar suatu wujud lain, meskipun dengan hakikat yang lebih tinggi. Akan tetapi, Al-Farabi tetap dekat dengan Aristoteles. Dia tidak percaya bahwa Tuhan dengan "tiba-tiba" saja memutuskan untuk menciptakan alam, sebab hal seperti itu dapat menimbulkan pemahaman bahwa Tuhan yang abadi dan statis ternyata telah mengalami perubahan.

Baca Juga; Apa itu SEMIOTIKA

Seperti halnya orang-orang Yunani, Al-Farabi memandang mata rantai wujud secara abadi memancar dari Yang Esa dalam sepuluh emanasi atau "intelek" berturut-turut, yang masing-masingnya membentuk satu bidang Ptolemis: langit terluar, lapisan bintangbintang tetap, garis lintasan Saturnus, Yupiter, Mars, Matahari, Venus, Merkurius, dan Bulan. Tatkala tiba pada dunia sublunar kita sendiri, kita menjadi sadar akan hierarki wujud yang berevolusi dalam arah berlawanan, dimulai dari benda-benda mati, meningkat kepada tumbuh-tumbuhan dan hewan, lalu berpuncak pada manusia yang jiwa dan akalnya berasal dari Akal ilahi, sedangkan tubuhnya berasal dari bumi. Melalui proses purifikasi, seperti yang dijelaskan oleh Plato dan Plotinus, manusia dapat membebaskan diri dari belenggu duniawi dan kembali kepada Tuhan, sumber alamiahnya.

Memang di sini terdapat perbedaan yang nyata dengan visi Al- Quran tentang realitas, namun Al-Farabi memandang filsafat sebagai cara yang lebih unggul untuk memahami kebenaran yang telah diekspresikan pada nabi secara metaforis dan puitis agar dapat menarik orang banyak. Namun, falsafah tidak diperuntukkan bagi setiap orang. Pada pertengahan abad kesepuluh, unsur esoterik mulai memasuki Dunia Islam. Falsafah adalah satu di antara dispilin esoteris itu. Sufismedan Syiisme juga menafsirkan Islam secara berbeda dari kaum ulama, para pemuka agama yang berpegang hanya pada Al-Quran dan Hukum Suci. Para faylasuf, kaum Sufi dan Syiah merahasiakan doktrin doktrin mereka bukan karena ingin menolak orang awam, tetapi karena menyadari bahwa versi Islam mereka lebih berbau petualangan dan banyak pembaruan yang mudah menimbulkan kesalahpahaman. Tafsiran harfiah atau simplistik atas doktrin-doktrin falsafah, mitosmitos Sufisme, atau Imamologi Syiah bisa membingungkan orangorang yang tidak memiliki kapasitas, pengetahuan, atau mental untuk memakai pendekatan simbolik, imajinatif, atau rasionalistik terhadap kebenaran tertinggi. Dalam sekte-sekte esoterik ini, para pemula secara hati-hati dipersiapkan untuk menerima ajaran-ajaran sulit ini melalui latihan khusus pikiran dan hati. Telah kita saksikan bahwa orang Kristen Yunani juga pernah mengembangkan pemahaman yangsama, melalui pembedaan antara dogma dan kerygma. Barat tidak mengembangkan tradisi esoterik, tetapi menganut interpretasi kerygmatiktentang agama, yang dipandang sama bagi setiap orang. Alihalih membiarkan orang yang dianggap menyimpang, Kristen Barat justru menyiksa mereka dan berusaha menyapu bersih kelompok yang berbeda pandangan. Di Dunia Islam, pemikir-pemikir esoterik biasanya dibiarkan hidup bebas.


Doktrin Al-Farabi tentang emanasi akhirnya diterima secara umum oleh para faylasuf. Para mistikus, seperti yang akan kita saksikan,juga lebih menyukai ajaran tentang emanasi daripada doktrin penciptaan ex nihilo. Kaum Sufi Muslim dan Kabbalis Yahudi tak pernah memandang falsafah dan akal bertentangan dengan agama, mereka justru sering menemukan bahwa pandangan para faylasuf merupakan inspirasi bagi bentuk keagamaan mereka yang lebih imajinatif. Hal ini secara khusus terbukti di dunia Syiah. Meski tetap merupakan bentuk Islam yang minoritas, abad kesepuluh dikenal sebagai abad kaum Syiah karena mereka berhasil menempatkan diri dalam posisi pemimpin pada pos-pos politik tertentu di seluruh imperium. Keberhasilan terbesar yang diraih Syiah adalah pendirian sebuah kekhalifahan di Tunis pada tahun 909 sebagai oposisi kekhalifahan Sunni di Bagdad. Ini merupakan prestasi sekte Ismailiyah, yang juga dikenal sebagai Syiah Fatimiyah atau Syiah Tujuh untuk membedakan diri mereka dari Syiah Dua Belas yang menerima autoritas dua belas imam. Kaum Ismaili berpisah dari Syiah Dua Belas setelah kematian Ja'far Al-Shadiq, imam keenam, pada tahun 765. Ja'far telah menetapkanputranya, Ismail, sebagai pengganti. Namun ketika Ismail wafat dalam usia muda, Syiah Dua Belas menerima autoritas saudaranya, Musa, sedangkan kaum Ismaili tetap setia kepada Ismail dan meyakini bahwa garis keturunan telah berakhir pada dirinya. Kekhalifahan mereka di Afrika Utara menjadi sangat kuat: pada tahun 973 mereka memindahkan ibu kota ke Al-Qahirah, yang berkedudukan di Kairo modern, tempat mereka mendirikan masjid agung Al-Azhar.

Namun, sikap memuliakan imam-imam bukan merupakan antusiasme politik semata. Sebagaimana telah kita saksikan, kaum Syiah yakin bahwa imam mereka menubuhkan kehadiran Tuhan di bumi dalam cara-cara yang misterius. Kaum Syiah telah mengembangkan kesalehan esoterik versi mereka sendiri yang diperoleh dari pembacaan simbolik atas Al-Quran. Mereka meyakini bahwa Muhammad telah menanamkan ilmu rahasia kepada sepupu dan menantunya, Ali ibn Abi Thalib, dan bahwa ilmu inilah yang diwariskan kepada para imam dalam garis keturunan langsungnya. Setiap imam itu mempunyai "Cahaya Muhammad" (al-nur al-Mubammad), spirit kenabian yang telah memampukan Muhammad berserah diri sepenuhnya kepada Tuhan. Baik Nabi maupun para imam itu bukanlah Tuhan, namun mereka telah secara penuh terbuka kepadanya sehingga dapat dikatakan bahwa Tuhan telah bersama mereka dalam cara yang lebih sempurna daripada kebersamaannya dengan manusia biasa. Kaum Kristen Nestorian memegang pandangan yang mirip tentang Yesus. Seperti halnya kaum Nestorian, orang Syiah memandang imam mereka sebagai "kuil" atau "perbendaharaan" Tuhan, penuh dengan cahaya pengetahuan ilahi yang mencerahkan. 'ilm ini tidak sekadar berupa informasi rahasia, tetapi juga merupakan sarana pengubahan batin. Di bawah bimbingan da'i-nya (pengarah spiritual), seorang murid akan diangkat dari kemalasan dan ketidakpekaan melalui penampakan yang jelas



Kaum Ismaili merasa bahwa para faylasuf terlalu memusatkan perhatian pada unsur-unsur eksternal dan rasionalistik agama dan mengabaikan inti spiritualnya. Meski menentang pemikiran bebas Al-Razi, mereka juga mengembangkan filsafat dan sains sendiri, yang tidak dipandang sebagai tujuan akhir tetapi sebagai latihan spiritual untuk memampukan mereka memahami makna batin Al-Quran. Berkontemplasi tentang abstraksi sains dan matematika memurnikan pikiran mereka dari tamsil indriawi dan membebaskan mereka dari keterbatasan kesadaran sehari-hari. Alih-alih menggunakan sains untuk memperoleh pemahaman akurat dan harfiah tentang realitas eksternal, kaum Ismaili memanfaatkannya untuk mengembangkan imajinasi mereka. Mereka beralih kepada mitos-mitos Zoroasterian Iran kuno, menggabungkannya dengan beberapa gagasan Neoplatonis dan mengembangkan persepsi baru tentang sejarah penyelamatan. Dapat diingat kembali bahwa di dalam masyarakat yang lebih tradisional, orang-orang percaya bahwa pengalaman mereka di dunia ini sebenarnya merupakan pengulangan peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi di alam langit: doktrin Plato tentang bentuk-bentuk atau arketipe abadi telah mengungkapkan keyakinan perenial ini dalam idiomfilsafat. Di Iran pra-Islam, misalnya, realitas dipandang memiliki aspekganda: ada langit yang bisa dilihat (getik) dan langit surgawi (menok) yang tak bisa dilihat lewat persepsi normal kita. Hal yang sama berlaku untuk realitas-realitas yang lebih abstrak dan spiritual: setiap doa atau amal baik yang kita kerjakan di dunia ini (getik) diduplikasikan di alam langit yang akan memberinya realitas sejati dan makna abadi.
Labels: Artikel, Filsafat dan Logika

Terima Kasih Telah Membaca Tuhan Para Filosof (Filosof Turki Abu Nasr Al-Farabi). Please share...!

0 Komentar untuk "Tuhan Para Filosof (Filosof Turki Abu Nasr Al-Farabi)"

Back To Top