![]() |
| Gambar Ilustrasi |
Filsafat, Logika dan Kepercayaan. Kemarin kita telah membahas kisah pencarian Tuhan Para Filosof (Yaqub Ibn Ishak Al Kindi). Nah, kali ini kita akan membahas kisah pencarian oleh Abu Bakar Muhammad Zakaria Al-Razi (w. kl. 930), yang sering disebut sebagai seorang non-konformis terbesar dalam sejarah Islam, menolak metafisika Aristoteles dan, seperti kaumGnostik, memandang penciptaan sebagai karya demiurge (pencipta dunia material dalam keyakinan Gnostik): mated tidak dapat berasal dari Tuhan yang sepenuhnya bersifat spiritual. Dia juga menolak solusi Aristoteles tentang Penggerak Pertama, serta doktrin-doktrin Al-Quran tentang wahyu dan kenabian. Menurutnya, hanya akal dan filsafat yang bisa menyelamatkan kita. Oleh karena itu, Al-Razi bukanlah seorang monoteis yang sebenarnya: dia mungkin seorang pemikir bebas pertama yang memandang konsep ketuhanan tidak bersesuaian dengan pandangan ilmiah. Al-Razi adalah seorang ahlikedokteran brilian yang dermawan, yang pernah bekerja sebagai kepala rumah sakit di kota asalnya Rayy di Iran selama beberapa tahun.
Baca Juga; Cinta sebagai agama (kisah nabi musa dengan penggembala)
Kebanyakan faylasuf tidak membawa rasionalisme mereka sampai seekstrem itu. Dalam sebuah perdebatan dengan seorang Muslim yang lebih konvensional, Al-Razi menyatakan bahwa seorang faylasuf sejati tidak dapat bersandar pada tradisi yang sudah mapan, tetapi mesti mengandalkan pikirannya sendiri karena hanya akal saja yang mampu membawa kita kepada kebenaran. Bersandar kepada doktrindoktrin wahyu tidak ada manfaatnya karena agama-agama itu berbeda. Bagaimana seseorang dapat memastikan mana di antaranya yang benar? Akan tetapi, penentangnya—yang, agak membingungkan, juga bernama Al-Razi2—mengetengahkan sebuah poin penting. Bagaimana dengan orang-orang awam? tanyanya. Kebanyakan mereka tidak mampu untuk melakukan penalaran filosofis: apakah karena itu mereka sesat, ditakdirkan salah dan tak mendapat petunjuk? Salah satu alasan mengapa falsafah tetap menjadi sekte minoritas dalam Islam adalah karena elitismenya. Falsafah terutama hanya menarik bagi mereka yang memiliki derajat intelektualitas tertentu dan dengan demikian bertentangan dengan semangat egalitarian yang mulaimenjadi ciri masyarakat Muslim.
Baca Juga; Cinta sebagai agama (kisah nabi musa dengan penggembala)
Kebanyakan faylasuf tidak membawa rasionalisme mereka sampai seekstrem itu. Dalam sebuah perdebatan dengan seorang Muslim yang lebih konvensional, Al-Razi menyatakan bahwa seorang faylasuf sejati tidak dapat bersandar pada tradisi yang sudah mapan, tetapi mesti mengandalkan pikirannya sendiri karena hanya akal saja yang mampu membawa kita kepada kebenaran. Bersandar kepada doktrindoktrin wahyu tidak ada manfaatnya karena agama-agama itu berbeda. Bagaimana seseorang dapat memastikan mana di antaranya yang benar? Akan tetapi, penentangnya—yang, agak membingungkan, juga bernama Al-Razi2—mengetengahkan sebuah poin penting. Bagaimana dengan orang-orang awam? tanyanya. Kebanyakan mereka tidak mampu untuk melakukan penalaran filosofis: apakah karena itu mereka sesat, ditakdirkan salah dan tak mendapat petunjuk? Salah satu alasan mengapa falsafah tetap menjadi sekte minoritas dalam Islam adalah karena elitismenya. Falsafah terutama hanya menarik bagi mereka yang memiliki derajat intelektualitas tertentu dan dengan demikian bertentangan dengan semangat egalitarian yang mulaimenjadi ciri masyarakat Muslim.
Baca Juga; Apa itu SEMIOTIKA
Labels:
Artikel,
Filsafat dan Logika
Terima Kasih Telah Membaca Tuhan Para Filosof (Abu Bakar Muhammad Zakaria Al-Razi ). Please share...!

0 Komentar untuk "Tuhan Para Filosof (Abu Bakar Muhammad Zakaria Al-Razi )"