![]() |
| Gambar Ilustrasi |
Namun di titik lain, demokrasi tak terhindarkan akan berbenturan dengan keinginan globalisme. Efek buruk yang dapat terjadi adalah lahirnya model demokrasi zombie, sejenis demokrasi yang dipaksakan. Kondisi ini menuntut para aktor kritis untuk mentransformasikan demokrasi. Dari demokrasi permukaan menuju demokrasi sejati.
Doktrin Globalisasi membawa misi yang paradoks. Sebagai kecenderungan zaman yang dimaknai secara alamiah, tentu tidak akan menjadi masalah besar, bahkan cenderung menjadi berkah bagi umat manusia. Setidaknya, doktrin Marshall Mcluhan tentang Bumi sebagai Desa Global lebih memungkinkan membangun dialog untuk menciptakan kedekatan dan kebersamaan makna tentang visi dunia yang lebih adil dan sejahtera. Sederhananya, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi ciptaan manusia mampu merekatkan identitas kebudayaan yang berbeda. Karena itu sumber daya manusia yang handal dalam memahami instrumen Globalisasi harus dimiliki.
Namun, ketika Globalisasi berujud Globalisme yang dikendalikan oleh kekuatan dominan sebagai anak kandung Kapitalisme, apalagi diklaim sebagai kemenangan sejarah, maka demokrasi sejati akan sulit ditemukan dalam belukar kepentingan pasar dan negara besar.
Mereka yang menggerakkan Globalisme telah memasuki ruang struktural yang menentukan masa depan politik bangsa dan negara. Apakah pemilik modal ini mendorong lahirnya demokrasi sejati dan mengerti doktrin realisme utopis bahwa kebijakan struktural dan institusional sedapat mungkin tidak mengorbankan manusia, membuka ruang makna dan partisipasi subjek manusia yang lebih besar dalam membangun peradaban? Menurut Robison, soalnya ialah bahwa semakin luas bisnis mereka, semakin mereka punya kepentingan yang lebih besar pada pembiakan kapitalisme.
Lalu bagaimana dengan konteks Indonesia? Andrew MacIntyre dalam Business and Politics in Indonesia (1990) mengatakan bahwa negara Indonesia memang sangat kuat, tetapi secara fiskal makin tergantung pada bisnis sektor swasta, terutama sejak hancurnya harga minyak di tahun 1983. Sejak pertengahan dasawarsa 1980-an, ekonomi Indonesia berpindah ke dominasi sektor swasta: dari 44% (1979-1983) menjadi 55% (1989-1993). Pergeseran itu juga diikuti oleh kekuatan besar dari sektor bisnis swasta untuk menekan pemerintah. Walaupun karena bingkai korporatis Orde Baru sangat kuat, tekanan dan penuntutan sektor swasta lebih efektif dilancarkan lewat saluran korporatis seperti KADIN, bukan lewat oposisi frontal dari luar.
Ada satu refleksi penting lain yang diajukan oleh Jeffrey Winters, Power in Motion (1996), yang menunjuk bahwa kebijakan ekonomi dan politik di Indonesia tidak ditentukan oleh kemauan pemerintah, melainkan oleh ‘mobilitas modal’ dan kontrol atas ‘modal yang mudah bergerak’ dalam bingkai ekonomi global.
Apa yang menarik dari beberapa refleksi itu ialah asumsi bahwa sektor bisnis dalam kapitalisme merupakan kekuatan “rasional” yang akan meluruskan apa yang tidak efisien, efektif dan transparan, atau apa yang korup, kolusif dan nepotis. Asumsi itu berakar pada oposisi konseptual yang dulu dibuat Max Weber antara ‘legal-rasional’ dan ‘patrimonial’.
Baca Juga; Ketika Tuhan Menjawab Tidak
Namun oposisi seperti itu tentu saja sebuah tipe-ideal, untuk tidak mengatakan mitos. Namun, setidaknya dalam politik global hari ini, demokrasi masih dipahami sebagai bahasa bersama yang dapat mendialogkan dan mengharmoniskan ketegangan relasi antara negara, pasar dan masyarakat. Demokrasi masih dipahami sebagai harapan masa depan yang belum final.
Dalam konteks transisi politik di Indonesia, demokrasi dimaknai sebagai model ideal dari ujung transisi politik yang dikelola dengan tepat. Demokrasi adalah katarsis dari titik-titik perjalanan kondisi politik yang didesain berbeda secara diametral dengan kondisi politik yang otoritarian. Kondisi Demokrasi menciptakan kompetisi, partisipasi dan liberalisasi yang bertanggung jawab. Sedangkan kondisi otoritarianisme menutup ruang-ruang dan dinamika kemanusiaan itu.
Akhirnya, Perubahan dalam rentang kultur dan sistem kehidupan dari masa Orde Baru hingga Era Reformasi, telah membawa dampak yang begitu signifikan dalam tatanan kehidupan bangsa Indonesia. Beberapa perubahan yang terjadi diantaranya dalam kehidupan beragama, budaya, pola pikir, mentalitas, hingga pada tataran keilmuan. Namun, berbagai eforia terhadap kebebasan membawa bangsa ini kepada sikap jahil, arogan dengan kealpaan fondasi pemikiran yang mantap. Sehingga perubahan yang seharusnya meningkat, saat ini terkesan dan terlihat semakin dekat menghampiri kehancuran peradaban bangsa.
Himpunan Mahasiswa Islam sebagai organisasi perjuangan yang dihuni oleh pemuda, walaupun dapat saja terjebak terbawa arus, harus dapat melihat masalah secara lebih jernih dan menjadi bagian dari pendorong demokrasi sejati. Karena itu Himpunan Mahasiswa Islam harus dapat memelihara visi besarnya dan tetap kaya dengan gagasan transformatif. Nurcholis Madjid mengatakan bahwa “keunggulan HMI dibandingkan dengan organisasi-organisasi lain adalah keunggulan ide-idenya, oleh sebab itu haruslah menjadi sumber motifasi dan inspirasi”. Tujuan yang jelas mutlak diperlukan suatu organisasi, hingga setiap usaha yang dilakukan dapat dilaksanakan dengan strategis dan konsisten.
Tujuan organisasi merupakan proses yang saling pengaruh-dipengaruhi oleh suatu motivasi dasar pembentukan status dan fungsinya dalam totalitas konteks eksistensialnya. Dalam totalitas kehidupan bangsa Indonesia, maka HMI adalah organisasi yang menjadikan Islam sebagai sumber nilai. Motivasi dan insprirasi berstatus sebagai organisasi mahasiswa yang berperan sebagai sumber insan pembangunan bangsa dan berfungsi sebagai organisasi yang bersifat independent.
Baca Juga; Kosmologi Dalam Islam
Maka pemantapan mengenai arah pikir dan gerak bagi organisasi ini sangat diperlukan, untuk itu perlu adanya perubahan yaitu proses kreativitas yang didukung dengan identifikasi pengkaderan yang selalu peka terhadap semangat zaman yang terus berkembang, sehingga dapat melahirkan kader-kader yang dapat menjadi bagian dari umat dan bangsa demi “ Terbinanya insane akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang di Ridhoi Allah SWT ”.
Labels:
Artikel,
Filsafat dan Logika
Terima Kasih Telah Membaca Transformasi Demokrasi Substansif Dalam Era Globalisasi. Please share...!

0 Komentar untuk "Transformasi Demokrasi Substansif Dalam Era Globalisasi"