-->
Motivasi Menulis

Sejarah Penyusunan Al-Qur'an

www.filsafat-logika.com
Gambar Ilustrasi
Filsafat, Logika dan Kepercayaan. Wahyu  Qur-an  telah  disampaikan  kepada Nabi Muhammad oleh malaikat Jibril, sedikit demi sedikit selama lebih  dari  20 tahun.  Wahyu  yang pertama  adalah yang sekarang merupakan ayat-ayat pertama dari pada surat nomor  96.  Kemudian  Wahyu itu  berhenti  selama  3  tahun,  dan mulai lagi berdatangan selama 20 tahun sampai wafatnya Nabi Muhammad pada tahun 632 M.;  dapat  dikatakan  bahwa  turunnya  Wahyu berlangsung 10 tahun sebelum Hijrah (622) dan 10 tahun lagi sesudah Hijrah.
Wahyu yang pertama diterima  Nabi  Muhammad  adalah  sebagai berikut (Surat 96 ayat 1-5):
"Bacalah  dengan  {menyebut)  nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.  Bacalah, dan  Tuhanmulah yang paling pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya."
Professor  Hamidullah mengatakan dalam Pengantar yang dimuat dalam terjemahan Qur-an bahwa isi dari wahyu pertama  adalah "penghargaan  terhadap  kalam sebagai alat untuk pengetahuan manusia" dan dengan begitu  maka  menjadi  jelas  bagi  kita "perhatian  Nabi  Muhammad untuk menjaga kelangsungan Qur-an dengan tulisan."
Baca Juga; Pesan Imam Ali As kepada umat muslim
Beberapa teks menunjukkan secara formal bahwa  lama  sebelum Nabi  Muhammad  meninggalkan  Mekah untuk hijrah ke Madinah, ayat-ayat Quran yang telah diwahyukan kepada  Nabi  Muhammad sudah  dituliskan. 
Kita mengetahui bahwa Nabi Muhammad dan pengikut-pengikutnya biasa  menghafal  teks-teks  yang  telah  diwahyukan. Adalah tidak masuk akal jika Qur-an menyebutkan hal-hal yang  tidak sesuai  dengan  realitas, karena hal-hal itu mudah dikontrol disekeliling  Muhammad  yakni  oleh   sahabat-sahabat   yang mencatat Wahyu tersebut.
Empat  Surat  Makiyah  (diturunkan  sebelum  Hijrah) member gambaran  tentang  redaksi  Qur-an  sebelum  Nabi   Muhammad meninggalkan Mekah pada tahun 622 M.
Surat 80 ayat 11-1 6:
"Sekali-kali  jangan  (demikian), sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan  itu  adalah  peringatan,  maka  barang   siapa   yang menghendaki, tentulah ia memperhatikan. Di dalam kõtab-kitab yang dimuliakan, yang ditinggikan, lagi disucikan. Di tangan para penulis, yang mulia lagi berbakti."
Yusuf  Ali, dalam Terjemah Qur-an yang ditulisnya pada tahun 1936 mengatakan bahwa pada waktu Surat  tersebut  diwahyukan sudah  ada  42  atau  45  Surat  yang beredar di antara kaum muslimin di Mekah (Jumlah Surat-surat  dalam  Qur-an  adalah 114 Surat).
"Bahkan  yang  didustakan  mereka  itu  ialah al Qur-an yang mulia yang tersimpan dalam Lauhul Mahfudz."
"Sesungguhnya Al Qur-an ini adalah bacaan yang sangat  mulia (yang   terdapat)   pada   kitab  yang  terpelihara  (Lauhul Makfudz).  Tidak  menyentuhnya  kecuali   orang-orang   yang disucikan. Diturunkan dari Tuhan semesta alam."
"Dan  mereka berkata (lagi). Dongengan-dongengan orang-orang dahulu  dimintanya  supaya  dituliskan,  maka   dibacakanlah dongengan itu kepadanya setiap pagi dan petang."
Ayat  tersebut  menyinggung dakwaan para lawan Nabi Muhammad yang  menuduh  bahwa  Muhammad  adalah  Nabi  palsu,  mereka menggambarkan  bahwa ada orang yang mendiktekan sejarah kuno kepada    Nabi    Muhammad     dan     Muhammad     menyuruh sahabat-sahabatnya untuk menulisnya.
Ayat  tersebut menyebutkan: "Pencatatan dengan tulisan" yang didakwakan kepada Muhammad oleh lawan-lawannya. Suatu Surat  yang  diturunkan  sesudah  Hijrah,  menyebutkan tentang   lembaran-lembaran   yang   di   dalamnya  tertulis perintah-perintah suci.
Surat 98 ayat 2 dan 3:
"Seorang  Rasul  dari  Allah  (yaitu  Nabi  Mahammad)   yang membacakan  lembaran-lembaran yang disucikan (Al Qur-an). Di dalamnya terdapat (isi) kitab-kitab yang lurus."
Dengan  begitu  maka  Qur-an  sendiri  memberitahukan  bahwa penulisan Quran telah dilakukan semenjak Nabi Muhammad masih hidup. Kita mengetahui bahwa Nabi  Muhammad  mempunyai  juru tulis-juru  tulis banyak, di antaranya yang termashur adalah Zaid bin Tsabit.
Dalam  pengantar  dalam  Terjemahan  Qur-annya  (197)  Prof. Hamidullah  melukiskan  kondisi  waktu  teks  Qur-an ditulis sampai Nabi Muhammad wafat.
Sumber-sumber sepakat untuk mengatakan bahwa tiap kali suatu fragmen  daripada  Qur-an diwahyukan, Nabi memanggil seorang daripada  para  sahabat-sahabatnya   yang   terpelajar   dan mendiktekan kepadanya, serta menunjukkan secara pasti tempat fragmen   baru   tersebut    dalam    keseluruhan    Qur-an. Riwayat-riwayat  menjelaskan  bahwa setelah mendiktekan ayat tersebut, Muhammad minta kepada juru tulisnya untuk  membaca apa yang sudah ditulisnya, yaitu untuk mengadakan pembetulan jika  terjadi  kesalahan.   Suatu   riwayat   yang   masyhur mengatakan  bahwa  tiap  tahun  pada  bulan  Ramadlan,  Nabi Muhammad membaca ayat-ayat Qur-an yang sudah diterimanya  di hadapan  Jibril.  Pada  bulan Ramadlan yang terakhir sebelum Nabi Muhammad  meninggal,  malaikat  Jibril  mendengarkannya membaca   (mengulangi   hafalan)   Qur-an   dua  kali.  Kita mengetahui  bahwa  semenjak  zaman  Nabi   Muhammad,   kaum muslimin  membiasakan diri untuk berjaga pada bulan Ramadlan dan melakukan ibadat-ibadat tambahan dengan membaca  seluruh Qur-an.  Beberapa  sumber  menambahkan  bahwa pada pembacaan Qur-an yang terakhir di  hadapan  Jibril,  juru  tulis  Nabi Muhammad   yang   bernama  Zaid  hadir.  Sumber-sumber  lain mengatakan bahwa di samping Zaid  juga  ada  beberapa  orang lain yang hadir.
Baca Juga; Pesan Rasulullah Muhammad SAW
Untuk  pencatatan  pertama,  orang  memakai  bermacam-macarn bahan seperti kulit, kayu, tulang  unta,  batu  empuk  untuk ditatah dan lain-lainnya.
Tetapi  pada  waktu  yang  sama Muhammad menganjurkan supaya kaum muslimin menghafalkan Qur-an, yaitu bagian-bagian  yang dibaca   dalam  sembahyang.  Dengan  begitu  maka  muncullah sekelompok orang yang dinamakan hafidzun (penghafal  Qur-an) yang   hafal   seluruh   Qur-an  dan  mengajarkannya  kepada orang-orang lain. Metoda ganda untuk memelihara teks  Qur-an yakni   dengan   mencatat   dan  menghafal  ternyata  sangat berharga.
Tidak lama setelah  Nabi  Muhammad  wafat  (tahun  632  M.), penggantinya  (sebagai  Kepala  Negara),  yaitu  Abu  Bakar, Khalifah yang pertama, minta kepada juru  tulis  Nabi,  Zaid bin   Tsabit   untuk  menulis  sebuah  Naskah;  hal  ini  ia laksanakan.
Atas initiatif Umar (yang kemudian menjadi Khalifah  kedua), Zaid  memeriksa dokumentasi yang ia dapat mengumpulkannya di Madinah; kesaksian daripada penghafal  Qur-an,  copy  Qur-an yang  dibikin  atas  bermacam-macam  bahan dan yang dimiliki oleh pribadi-pribadi, semua itu untuk menghindari  kesalahan transkripsi  (penyalinan  tulisan)  sedapat  mungkin. Dengan cara ini, berhasillah  tertulis  suatu  naskah  Qur-an  yang sangat dapat dipercayai.
Sumber-sumber  mengatakan  bahwa  kemudian  Umar bin Khathab yang menggantikan Abu Bakar pada tahun 634 M, menyuruh bikin satu  naskah  (mushaf) yang ia simpan, dan ia pesankan bahwa setelah ia mati, naskah tersebut  diberikan  kepada  anaknya perempuan, Hafsah janda Nabi Muhammad
Khalifah  ketiga,  Uthman bin Affan yang menjabat dari tahun 644  sampai  655,  membentuk  suatu  panitya  yang   terdiri daripada   para   ahli  dan  memerintahkan  untuk  melakukan pembukuan  besar  yang  kemudian   membawa   nama   Khalifah tersebut.  Panitya  tersebut  memeriksa  dokumen yang dibuat oleh  Abubakar  dan  yang  dibuat  oleh  Umar  dan  kemudian disimpan   oleh   Hafsah,   panitya   berkonsultasi   dengan orang-orang yang hafal Qur-an. Kritik  tentang  autentisitas teks  dilakukan secara ketat sekali. Persetujuan saksi-saksi diperlukan untuk menetapkan suatu ayat  kecil  yang  mungkin mempunyai  arti  lebih  dari  satu;  kita  mengetahui  bahwa beberapa ayat Qur-an dapat menerangkan ayat-ayat  yang  lain dalam  soal ibadat. Hal ini adalah wajar jika kita mengingat bahwa kerasulan Muhammad adalah sepanjang dua puluh tahun.
Dengan cara tersebut di atas,  diperolehlah  suatu  teks  di mana  urutan  Surat-surat mencerminkan urutan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad ketika membaca Qur-an di bulan  Ramadhan di  muka  malaikat  Jibril seperti yang telah diterangkan di atas.
Kita dapat bertanya-tanya tentang  motif  yang  mendorong  3 Khalifah  pertama, khususnya Uthman untuk mengadakan koleksi dan  pembukuan  teks.  Motif  tersebut   adalah   sederhana; tersiarnya Islam adalah sangat cepat pada beberapa dasawarsa yang pertama  setelah  wafatnya  Nabi  Muhammad.  Tersiarnya Islam  tersebut  terjadi  di  daerah-daerah yang penduduknya tidak  berbahasa  Arab.  Oleh  karena   itu   perlu   adanya tindakan-tindakan  pengamanan  untuk  memelihara  tersiarnya teks Qur-an dalam kemurnian aslinya. Pembukuan Usthman adalah untuk memenuhi hasrat ini.
Usthman   mengirimkan   naskah-naskah  teks  pembukuannya  ke pusat-pusat Emperium Islam, dan oleh karena itu maka menurut Professor Hamidullah , pada waktu ini terdapat naskah Qur-an (mushaf) Usthman di Tasykent dan Istambul. Jika  kita  sadar akan  kesalahan  penyalinan  tulisan  yang  mungkin terjadi, manuskrip  yang  paling  kuno  yang  kita  miliki  dan  yang ditemukan di negara-negara Islam adalah identik. Begitu juga naskah-naskah yang ada di Eropa. (Di  Bibliotheque  National di  Paris  terdapat  fragmen-fragmen yang menurut para ahli, berasal dan abad VIII dan IX Masehi,  artinya  berasal  dari abad II dan III Hijrah). Teks-teks kuno yang sudah ditemukan semuanya sama, dengan catatan ada  perbedaan-perbedaan  yang sangat  kecil  yang  tidak  merubah  arti teks, jika konteks ayat-ayat memungkinkan cara membaca  yang  lebih  dari  satu karena   tulisan   kuno  lebih  sederhana  daripada  tulisan sekarang.
Baca Juga; Apakah Takdir Bisa di Rubah ?
Surat-surat Qur-an yang berjumlah 114, diklasifikasi menurut panjang  pendeknya, dengan beberapa kekecualian. Oleh karena itu  urutan  waktu  (kronologi)  wahyu  tidak  dipersoalkan; tetapi  orang  dapat  mengerti hal tersebut dalam kebanyakan persoalan.  Banyak  riwayat-riwayat  yang  disebutkan  dalam beberapa  tempat  dalam  teks,  dan  hal  ini  memberi kesan seakan-akan  ada  ulangan.  Sering  sekali  suatu   paragraph menambahkan  perincian  kepada  suatu riwayat yang dimuat di lain tempat secara kurang terperinci. Dan semua yang mungkin ada  hubungannya  dengan  Sains  modern,  seperti kebanyakan hal-hal yang  dibicarakan  oleh  Qur-an,  dibagi-bagi  dalam Qur-an dengan tidak ada suatu tanda adanya klasifikasi.
Wallahualam

Sumber:
BIBEL, QUR-AN, dan Sains Modern
Dr. Maurice Bucaille

Tuhan Para Filosof YAHUDI

Filsafat, Logika dan Kepercayaan. Beberapa hari yang lalu kita telah membahas pemahaman para filosof yaitu Yaqub ibn Ishaq Al-Kindi, Abu Nasr Al-Farabi, Abu Ali ibn Sina dan Abu Bakar Muhammad Zakaria Al-Razi mengenai konsep Tuhan. Untuk kesempatan kali ini kita akan sedikit membahas konsep Tuhan menurut para filosof filosof Yahudi.

www.filsafat-logika.com
Gambar Ilustrasi
Saadia bin Yoseph (882-942)orang pertama yang melakukan interpretasi filosofis terhadap Yudaisme, adalah seorang Talmudis sekaligus Mu'tazilah. Dia percaya bahwa akal bisa mencapai pengetahuan tentang Tuhan melalui kekuatannya sendiri. Seperti seorang faylasuf, dia memandang pencapaian konsepsi rasional tentang Tuhan sebagai suatu mitzvah, kewajiban agama. Akan tetapi, seperti rasionalis Muslim, Saadia tidak memiliki keraguan sama sekali tentang eksistensi Tuhan. Realitas Tuhan Pencipta tampak begitu jelas bagi Saadia sehingga, dalam karyanya Books of Beliefs and Opinions, dia merasa yang lebih perlu dibuktikan adalah soal kemungkinan keraguan di dalam agama dari pada soal iman.

Seorang Yahudi tidak dituntut untuk memaksa akalnya menerima wahyu, demikian Saadia berpendapat. Namun itu tidak berarti bahwa Tuhan dapat sepenuhnya dijangkau oleh akal manusia. Saadia mengakui bahwa ide tentang penciptaan dari ketiadaan mengandung banyak kesulitan filosofis dan tak mungkin dijelaskan dalam terma rasional, karena Tuhan yang dikonsepsikan oleh falsafah tidak dapat membuat keputusan mendadak dan memicu perubahan. Bagaimana mungkin alam material bisa berasal dari Tuhan yang sepenuhnya bersifat spiritual? Di sini kita telah mencapai batas akal dan harus menerima saja bahwa alam ini tidak abadi, seperti yang diyakini oleh kaum Platonis, tetapi memiliki permulaan dalam waktu. Ini satu-satunya penjelasan yang mungkin dan bersesuaian dengan kitab suci dan akal sehat. Setelah menerima ini, kita dapat mendeduksikan faktafakta lain tentang Tuhan. Tatanan makhluk telah direncanakan dengan cerdas; ia memiliki hidup dan energi; oleh karena itu, Tuhan yang telah menciptakannya pasti juga memiliki Hikmat, Hidup, dan Kekuatan.

Baca Juga; Apa itu SEMIOTIKA

Atribut-atribut ini bukanlah hypostases yang terpisah, seperti disiratkan doktrin Trinitas Kristen, tetapi semata-mata merupakan aspek dari Tuhan. Hanya karena bahasa manusia tidak mampu mengungkapkan realitas Tuhan secara memadai maka kita terpaksa menganalisisnya lewat cara ini dan seolah merusak simplisitas mutlak Tuhan. Jika kita ingin bicara sangat eksak tentang Tuhan, kita hanyabisa menyatakan bahwa dia ada. Saadia tidak membuang semua deskripsi positif tentang Tuhan. Dia juga tidak mendahulukankonsepsi para filosof tentang Tuhan yang jauh dan impersonal daripada Tuhan Alkitab yang personal dan antropomorfis. Ketika, misalnya, dia mencoba menjelaskan penderitaan yang terlihat di dunia, Saadia bersandar pada solusi para penulis Hikmat dan Talmud. Penderitaan, katanya, merupakan hukuman atas dosa; ia menyucikan dan mendisiplinkan kita dengan maksud membuat kita menjadi rendah hati. Penjelasan ini tidak akan memuaskan bagi seorang faylasuf sejati karena menjadikan Tuhan sangat manusiawi dan menisbahkan rencana serta maksud kepadanya. Akan tetapi, Saadia tidak melihat Tuhan dalam konsepsi kitab suci lebih rendah daripada Tuhan dalam falsafah. Para nabi lebih tinggi daripada para filosof. Pada akhirnya, akal hanya dapat berupaya untuk membuktikan secara sistematis apa-apa yang telah diajarkan oleh kitab suci.


www.filsafat-logika.com
Solomon ibn Gabirol (kl. 1022-1070). Seorang Yahudi lainnya yang mengambil langkah lebih jauh. Dalam karyanya Fountain of Life, Solomon ibn Gabirol (kl. 1022-1070) yang Neoplatonis tidak dapat menerima doktrin penciptaan ex nihilo, tetapi berupaya menyesuaikan teori emanasi untuk memungkinkan penisbahan spontanitas dan kehendak bebas kepada Tuhan. Dia mengklaim bahwa Tuhan telah menghendaki atau menginginkan proses emanasi. Dengan demikian, proses itu tidak terlalu mekanistik dan menunjukkan bahwa Tuhan mengendalikan hukum-hukum eksistensi, bukannya tunduk pada dinamika yang sama. Namun, Gabirol gagal menjelaskan secara memuaskan bagaimana materi bisa berasal dari Tuhan.


www.filsafat-logika.com
Bahya ibn Pakudah (w. kl.1080) bukanlah seorang Platonis fanatik, tetapi menggunakan metode metode kalam ketika dia rasa sesuai. Seperti Saadia, dia berpendapat bahwa Tuhan telah menciptakan alam pada saat tertentu. Alam tentu saja tidak muncul secara kebetulan: itu adalah gagasan yang sama anehnya dengan mengatakan bahwa sebuah paragraf yang tertulis dengan indah mewujud ketika tinta tumpah di atas kertas. Keteraturan dan adanya tujuan alam membuktikan keharusan adanya Pencipta, sebagaimana diungkapkan kitab suci. Setelah mengetengahkan doktrin yang sangat tidak filosofis ini, Bahya beralih dari kalam ke falsafah, menguraikan bukti-bukti Ibn Sina bahwa pastilah ada sebuah Wujud Wajib.

Bahya percaya bahwa dua kelompok manusia yang mampu menyembah Tuhan dengan sempurna adalah para nabi dan filosof. Nabi memiliki pengetahuan langsung dan intuitif tentang Tuhan, sedangkan filosof mempunyai pengetahuan rasional mengenainya.Manusia selain mereka hanya menyembah Tuhan yang diproyeksikan pikiran sendiri. Mereka semua tak lebih seperti orang buta yang hams dibimbing oleh orang lain jika tak mampu membuktikan sendiri eksistensi dan keesaan Tuhan. Bahya sama elitisnya dengan para faylasuf, tetapi dia juga mempunyai kecenderungan Sufistik yang kuat: akal dapat memberi tahu kita bahwa Tuhan itu ada tetapi tak mampu menyampaikan apa pun mengenai Tuhan. Seperti bisa terlihat dari judulnya, risalah Bahya Duties of the Heart menganjurkan penggunaan akal untuk membantu seseorang menumbuhkan sikap yang layak kepada Tuhan. Ketika Neoplatonisme bertentangan dengan Yudaisme, dia dengan mudah mencampakkannya. Pengalaman keagamaannya TentangTuhan lebih didahulukan daripada semua metode rasionalistik. 

Back To Top