-->
Motivasi Menulis

Hukum Hukum Tentang Mayat

Gambar Ilustrasi
Filsafat, Logika dan Kepercayaan. Seorang yang telah tampak padanya tanda-tanda mati (sekarat) diwajibkan menunaikan hak-hak Allah seperti shalat, puasa, dan lain-lain serta hak-hak manusia seperti melunaskan utang dan mengembalikan amanat kepada para pemiliknya. 
Jika dia tidak dapat menjalankan kewajiban-kewajiban itu, maka dia wajib memberikan wasiat.
Hukum Mayat :
1.  Di saat sakratul maut
Di saat seorang sedang sakratul maut diwajibkan dipalingkan ke arah kiblat, dengan cara terlentang di atas punggungnya  yang jika dia duduk maka posisinya menghadap kiblat. Memalingkan mayat ke arah kiblat hukumnya fardhu kifayah.
2.    Memandikan mayat
Memandikan mayat hukumnya fardhu kifayah (mayat anak-anak atau dewasa) kecuali
a. bayi keguguran yang belum berusia empat bulan. Bayi ini tidak wajib dimandikan tetapi cukup dibalut dengan kain lalu dikuburkan. Adapun jika sudah berusia empat bulan maka mayat bayi dimandikan, dikafani, dan dikuburkan.
b. Seorang syahid yang dibunuh demi membela Islam, tidak wajib dimandikan dan tidak wajib dikafani. Dia cukup dikuburkan dengan bajunya. Gugurnya kewajiban mandi dan kafan bila seorang syahid mati di tengah berkecamuknya perang.
Baca Juga; Az Zahrah, Tuntunan dan Panutan Wanita Muslimah
 Syarat-syarat Orang yang Memandikan
1.  Baligh
2.  Berakal
3.  Beriman
4. Sesama jenis kelamin antara yang memandikan dengan  yang dimandikan kecuali :
     a.   Anak  kecil yang usianya belum lebih dari tiga tahun.
     b.   Suami – isteri. Masing-masing boleh memandikan yang lain.
     c.   Mahram. Jika tidak ada orang yang sejenis kelamin dengan mayat, maka saudara         mahramnya boleh memandikannya.

Cara Memandikan Mayat
1. Menghilangkan benda-benda najis dari badan mayat.
2. Dimandikan tiga kali : pertama,dimadikan dengan air yang dicampuri  daun bidara (sidr), kemudian dimandikan dengan air yang dicampuri kapur barus dan terakhir dimandikan dengan air murni.
Adapun cara memandikannya dengan tiga macam air tersebut sama dengan cara mandi junub, yaitu terlebih dahulu membasuh kepala dan lehernya, kemudian membasuh badan  sebelah kanan (yakni  badan bagian kanan dari pusar ke samping kanan dan dari leher sampai ke kaki) dan membasuh badan sebelah kiri.

Beberapa Masalah Yang Berkaitan Dengan Memandikan Mayat.
1-      Jika kesulitan (berhalangan) mendapatkan daun bidara atau  kapur barus atau keduanya, maka ada beberapa  gambaran. Pertama, [bila] yang tidak ada adalah daun bidara, maka  dimandikan dengan air murni sebagai ganti air yang dicampuri daun bidara, kemudian dimandikan dengan air yang dicampuri kapur barus dan dimandikan dengan air murni. Kedua, [bila] yang tidak ada adalah kapur barus, maka dimandikan dengan air yang dicampuri daun bidara, kemudian dengan air murni sebagai ganti  air yang dicampuri dengan kapur barus dan dimandikan dengan air murni. Ketiga, [bila] yang tidak ada adalah keduanya ( daun bidara dan kapur barus), maka dimandikan tiga kali dengan air murni semuanya.
2-      Jika tidak ada air untuk memandikan mayat, maka ditayammumi sebanyak tiga kali sebagai ganti ketiga mandi tersebut. Mayat yang terluka atau terbakar boleh ditayammumi jika memandikannya akan menyebabkan kulitnya terkelupas.
3-      Jika tidak terdapat air yang cukup kecuali untuk satu kali mandi saja, maka jika yang ada adalah daun bidara, maka dimandikan dengan air yang dicampuri daun bidara, kemudian  ditayammumi dua kali sebagai ganti mandi dengan air campuran kapur barus dan mandi dengan air murni. Dan jika daun bidara tidak ada, maka dimandikan dengan air murni sebagai ganti  air  yang dicampur dengan daun bidara, dan kemudian  ditayammumi dua kali sebagai ganti air campuran kapur barus dan air murni.
4-      Jika tidak terdapat air yang cukup kecuali untuk dua kali mandi saja, maka ada beberapa gambaran.
Pertama,  jika yang ada adalah daun bidara saja, maka dimandikan dengan air daun bidara kemudian dengan air murni sebagai ganti air campuran kapur barus kemudian ditayammumi sebagai ganti air murni. Kedua, Jika yang ada adalah kapur barus saja, maka dimandikan dengan air murni sebagai ganti air campuran daun bidara, kemudian dimandikan dengan air kapur barus kemudian ditayammumi sebagai ganti mandi dengan air murni. Ketiga, Jika daun bidara dan kapur barus ada, maka dimandikan dengan air yang dicampur daun bidara dan air yang dicampur kapur barus kemudian ditayammumi sebagai ganti mandi dengan air murni. []
Baca Juga; Kesalahan Sederhana saat mengaminkan Do'a

Hukum-Hukum Tentang Mayat (3)
Mengkafani Mayat.
1-      Cara Mengkafani Mayat : Mengkafani mayat hukumnya fardhu kifayah dan  kafanharus terdiri dari tiga helai kain ; mi'zar( kain yang menutupi antara pusar dan lutut), qomish ( kain yang menutupi antara dua bahu sampai betis ) dan izar ( kain yang menutupi seluruh badan ).
2-      Syarat-syarat kain kafan : a- Kain yang mubah ( tidak boleh menggunakan kain milik orang lain kecuali kalau diizinkan).b- Kian yang suci ( tidak boleh menggunakan kain yang terkena najis atau terbuat dari barang najis, seperti kulit bangkai ).c- Kain kafan tidak terbuat dari sutra, walaupun mayat itu wanita atau anakn kecil. d - Kain kafan tidak terbuat kulit binatang yang tidak boleh dimakan dagingnya.

Tahnith Mayat.
Men-tahnith mayat hukumnya fardhu kifayah, baik mayat itu anak kecil atau besar. Tahnith mayat dilakukan setelah memandikan. 
 Tahnith adalah mengusapkan kapur barus di tujuh anggota sujud ( dahi, perut kedua telapak tangan, kedua lutut dan kedua ibu jari telapak kaki ).

Mensholati Mayat.
Mensholati mayat muslim hukumnya fardhu kifayah dan tidak boleh mensholati mayat kafir.
a-      Cara Sholat Mayat adalah setelah niat bertakbir lima kali ; setelah takbir pertama mengucapkan dua kalimat syahadat. |Setelah takbir kedua membaca sholawat. Setelah takbir ketiga mendoakan kaum muslimin dan muslimat, dan mukminin dan mukminat. Setelah takbir keempat mendoakan mayat dan kemudian takbir kelima sebagai penutup sholat.
b-      Dalam pelaksanaan sholat mayat tidak ada azan, iqamat, ruku', sujud, tasyahhud dan salam.

Syarat-syarat Sholat Mayat.
1-      Niat.
2-      Menentukan mayat yang akan disholati, misalnya sholat mayat ini.
3-      Menghadap kiblat.
4-      Sholat sambil berdiri
5-      Meletakan mayat didepan orang yang sholat dengan posisi terlentang di atas  punggungnya dan kepala mayat terletak di sebelah kanan orang yang sholat.
6-      Antara orang yang sholat dengan mayat tidak ada penghalang.
7-      Jarak antara orang yang sholat dengan mayat tidak terlalu jauh.
8-      Salah satu diantara keduanya tidak lebih tinggi posisinya atau lebih rendah.
9-      Sholat dilakukan setelah memandikan, mengkafani dan men-tahnith.
Baca Juga; Ini Dia persamaan Islam dan Kristen
Dalam pelaksanaan sdolat mayat tidak disyaratkan suci dari hadas ( berwudhu ).

Menguburkan Mayat.
Mernguburkan mayat muslim hukumnya fardhu kifayah. Caranya adalah meletakan badannya di dalam lubang kubur sambil menghadap kiblat dengan berbaring di atas samping kanan dan kemudian menutupinya dengan tanah sehingga aman dari binatang buas dan baunya tidak tercium oleh manusia.

Labels: Artikel, Kepercayaan

Terima Kasih Telah Membaca Hukum Hukum Tentang Mayat. Please share...!

0 Komentar untuk "Hukum Hukum Tentang Mayat"

Back To Top