-->
Motivasi Menulis

Hukum Kebiri Dari Sudut Pandang Islam

Gambar Ilustrasi
Filsafat, Logika dan Kepercayaan. Kali ini saya akan sedikit mengulas mengenai hukum kebiri bagi pelaku kejahatan seksual. Dan bagaimana pandangan islam mengenai hukaman kebiri tersebut. 
Seperti yang kita ketahui bahwa akhir akhir ini negara kita dikejutkan dengan maraknya kasus kejahatan seksual, baik itu pemerkosaan, pencabulan yang bahkan disertai dengan pembunuhan. Lebih menyedihkannya lagi bahwa para pelaku rata rata masih di bawah umur. 
Akhirnya Pemerintah meneken Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu) No. 1 Tahun 2016 tentang perubahan kedua atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Hali itu karena pemerintah telah menetapkan kejahatan seksual terhadap anak sebagai kejahatan luar biasa. Pasalnya, kejahatan itu dapat mengancam dan membahayakan jiwa anak.
Namun Keputusan pemerintah ini menuai banyak pro dan kontra, ada yang setuju, dan ada juga yang menolak hukuman kebiri karena mengaggap hal tersebut melanggar HAM.
Adapun Kebiri yang dilakukan adalah bukan kebiri dalam bentuk fisik (memotong kelamin), Melainkan Kebiri Kimia (menyuntikkan Hormon Perempuan). Dr. Boyke menjelaskan, hukuman kebiri dengan kimiawi biasanya menggunakan suntikan antiandrogen yang berisi hormon-hormon perempuan. "Jadi sudah tahu sendirilah, hormon-hormon perempuan dikasih ke laki-laki, ya jadi perempuan dia. Dan dia akan amat terpengaruh dengan perubahan-perubahan itu. Yang tadinya agresif, toh akan sangat menurun. Bahkan termasuk imunitasnya. Termasuk otot-ototnya semua, “kata Boyke, Kamis (26/5).
Nah, Bagaimana pandangan Islam dengan keputusan Pemerintah Tersebut ?
Melihat dari cara kerja dan akibat dari hukuman kebiri tersebut memungkinkan laki laki memiliki sifat perempuan karena penyuntikan hormon perempuan... Dan dalam agama islam sendiri lelaki yang menyerupai atau meniru gaya/kelakuan perempuan termasuk manusia yang di laknat,, sesuai hadits berikut;

Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata,
لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – الْمُتَشَبِّهِينَ مِنَ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ ، وَالْمُتَشَبِّهَاتِ مِنَ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki” (HR. Bukhari no. 5885).
Dalam lafazh Musnad Imam Ahmad disebutkan,
لَعَنَ اللَّهُ الْمُتَشَبِّهِينَ مِنَ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ ، وَالْمُتَشَبِّهَاتِ مِنَ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ
Allah melaknat laki-laki yang menyerupai wanita, begitu pula wanita yang menyerupai laki-laki” (HR. Ahmad no. 3151, 5: 243. Sanad hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari).
Begitu pula dalam hadits Abu Hurairah disebutkan,
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لَعَنَ الرَّجُلَ يَلْبَسُ لُبْسَةَ الْمَرْأَةِ وَالْمَرْأَةَ تَلْبَسُ لُبْسَةَ الرَّجُلِ
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang memakai pakaian wanita, begitu pula wanita yang memakai pakaian laki-laki” (HR. Ahmad no. 8309, 14: 61. Sanad hadits ini shahih sesuai syarat Muslim, perowinya tsiqoh termasuk perowi Bukhari Muslim selain Suhail bin Abi Sholih yang termasuk perowi Muslim saja). Dalam hadits terakhir ini yang dilaknat adalah gaya pakaiannya. Sedangkan hadits di atas adalah mode bergaya secara umum.
Jadi rasanya hukum tersebut salah/tidak cocok di mata  islam karena bisa menyebabkan laki laki menjadi di laknat oleh Allah lantaran hukuman tersebut bisa merubah laki laki bergaya perempuan akibat laki laki yang mempunyai hormon perempuan. Wallahualam..
Lantas bagaimana islam menanggapi kasus tersebut ??
Dalam islam sendiri, hukum pemerkosa terdiri atas 2.
1. Pemerkosa tanpa ancaman senjata
Imam Malik mengatakan, “Menurut pendapat kami, tentang orang yang memperkosa wanita, baik masih gadis maupun sudah menikah, jika wanita tersebut adalah wanita merdeka (bukan budak) maka pemerkosa wajib memberikan mahar kepada sang wanita. Sementara, jika wanita tersebut adalah budak maka dia wajib memberikan harta senilai kurang sedikit dari harga budak wanita tersebut. Adapun hukuman dalam masalah ini hanya diberikan kepada pemerkosa, sedangkan wanita yang diperkosa tidak mendapatkan hukuman sama sekali.” (Al-Muwaththa’, 2:734)
Imam Sulaiman Al-Baji Al-Maliki mengatakan, “Wanita yang diperkosa, jika dia wanita merdeka (bukan budak), berhak mendapatkan mahar yang sewajarnya dari laki-laki yang memperkosanya. Sementara, pemerkosa dijatuhi hukuman had (rajam atau cambuk). Ini adalah pendapat Imam Syafi’i, Imam Al-Laits, dan pendapat yang diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu. Sementara, Abu Hanifah dan Ats-Tsauri mengatakan, ‘Dia berhak mendapatkan hukuman had, namun tidak wajib membayar mahar.'”
Kemudian, Imam Al-Baji melanjutkan, “Dalil pendapat yang kami sampaikan, bahwa hukuman had dan mahar merupakan dua kewajiban untuk pemerkosa, adalah bahwa untuk hukuman had ini terkait dengan hak Allah, sementara kewajiban membayar mahar terkait dengan hak makhluk ….” (Al-Muntaqa Syarh Al-Muwaththa’, 5:268).
2. Pemerkosa dengan menggunakan senjata
Orang yang memerkosa dengan menggunakan senjata, di jatuhi hukuman seperti hukuman yang merampok;
إِنَّمَا جَزَاءُ الَّذِينَ يُحَارِبُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَسْعَوْنَ فِي الأَرْضِ فَسَاداً أَنْ يُقَتَّلُوا أَوْ يُصَلَّبُوا أَوْ تُقَطَّعَ أَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُمْ مِنْ خِلافٍ أَوْ يُنْفَوْا مِنَ الأَرْضِ ذَلِكَ لَهُمْ خِزْيٌ فِي الدُّنْيَا وَلَهُمْ فِي الآخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ
“Sesungguhnya, hukuman terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, adalah mereka dibunuh atau disalib, dipotong tangan dan kaki mereka dengan bersilang, atau dibuang (keluar daerah). Yang demikian itu, (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka di dunia, dan di akhirat mereka mendapat siksaan yang besar.” (QS. Al-Maidah: 33)
Dari ayat di atas, ada empat pilihan hukuman untuk perampok: Dibunuh, Disalib, Dipotong kaki dan tangannya dengan bersilang. Misalnya: dipotong tangan kiri dan kaki kanan dan Diasingkan atau dibuang (saat ini bisa diganti dengan penjara) Pengadilan boleh memilih salah satu di antara empat pilihan hukuman di atas, yang dia anggap paling sesuai untuk pelaku dan bisa membuat efek jera bagi masyarakat, sehingga bisa terwujud keamanan dan ketenteraman di masyarakat.

Bagaimana Nabi Muhammad Dilahirkan ?

Berikut Video Dr. Zakir Naik yang menjelaskan mengenai Kelahiran Nabi Muhammad SAW..




Nonton Juga; Kenapa Tuhan Tidak Turun Meluruskan Kesalahan Manusia ?
Nonton Juga; Siapakah Dajjal dan Imam Mahdi ?
Nonton Juga; Cara membuat Manusia Tunduk Pada Tuhan

>

Kenapa Tuhan Tidak Turun Membasmi Kejahatan ??

Berikut Penjelasan Dr. Zakir Naik yang menjawab pertanyaan non muslim mengenai mengapa Tuhan tidak turun kebumi meluruskan semua kesalahan..




Nonton Juga; Siapakah Dajjal dan Imam Mahdi ?
Nonton Juga; Cara Membuat Manusia patuh Kepada Allah
Nonton Juga; Kedudukan Pria dan Wanita dalam Islam 

>

Cara membuat Manusia Tunduk Pada Allah

Berikut ini adalah penjelasan Dr. Zakir naik tentang cara membuat Manusia tunduk pada Allah..



Nonton Juga; Bagaimana Nabi Muhammad Di lahirkan ?
Nonton Juga; Kedudukan Antara Pria dan Wanita
Nonton juga; Pengaruh Media Terhadap Islam

>

Kedudukan antara Pria dan Wanita dalam Islam

Nonton Video penjelasan Dr. Zakir Naik tentang kedudukan Pria dan wanita.


Nonton Juga; Kenapa Tuhan Tidak Turun Membasmi Kejahatan
Nonton Juga; Bagaimana Nabi Muhammad Dilahirkan
Nonton Juga; Pengaruh Medai terhadap Islam

>

Ketika Tuhan Menjawab TIDAK.

Gambar Ilustrasi
Sebuah Renungan Sederhana
Ketika manusia berdo'a, "Ya Allah ambillah kesombonganku dariku."
Allah berkata, "Tidak. Bukan Aku yang mengambil, tapi kau yg harus menyerahkannya."

Ketika manusia berdo'a, "Ya Allah sempurnakanlah kekurangan anakku yang cacat."
Allah berkata, "Tidak. Jiwanya telah sempurna, tubuhnya hanyalah sementara."

Ketika manusia berdo'a, "Ya Allah beri aku kesabaran."
Allah berkata, "Tidak. Kesabaran didapat dari ketabahan dalam menghadapi cobaan, tidak diberikan, kau harus meraihnya sendiri."
Ketika manusia berdo'a, "Ya Allah beri aku kebahagiaan."
Allah berkata, "Tidak. Kuberi keberkahan, kebahagiaan tergantung kepadamu sendiri untuk menghargai keberkahan itu."
Ketika manusia berdo'a, "Ya Allah jauhkan aku dari kesusahan."
Allah berkata, "Tidak. Penderitaan menjauhkanmu dari jerat duniawi dan mendekatkanmu pada-Ku."
Ketika manusia berdo'a, "Ya Allah beri aku segalahal yang menjadikan hidup ini nikmat." Allah berkata, "Tidak. Aku beri kau kehidupan supaya kau menikmati segala hal." Ketika manusia berdo'a, "Ya Allah bantu aku MENCINTAI orang lain, Sebesar cinta-Mu padaku.” Allah berkata... "Akhirnya kau mengerti .!!"
Kadang kala kita berpikir bahwa Allah tidak adil.
Kita telah susah payah memanjatkan doa, meminta dan berusaha, pagi-siang-malam, tapi tak ada hasilnya.
Kita mengharapkan diberi pekerjaan, puluhan- bahkan ratusan lamaran telah kita kirimkan tak ada jawaban sama sekali, sementara orang lain dengan mudahnya mendapatkan pekerjaan.
Kita sudah bekerja keras dalam pekerjaan mengharapkan jabatan, tapi justru orang lain yang mendapatkannya - tanpa susah payah.
Kita mengharapkan diberi pasangan hidup yang baik dan sesuai, berakhir dengan penolakkan dan kegagalan, orang lain dengan mudah berganti pasangan.
Kita menginginkan harta yg berkecukupan, namun kebutuhanlah yang terus meningkat.
Coba kita bayangkan diri kita seperti anak kecil yang sedang demam dan pilek lalu kita melihat tukang es.Kita yang sedang panas badannya merasa haus dan merasa dengan minum es dapat mengobati rasa demam (maklum anak kecil). Lalu kita meminta pada orang tua kita (seperti kita berdoa memohon pada Allah) dan merengek agar dibelikan es. Orangtua kita tentu lebih tahu kalau es dapat memperparah penyakit kita. Tentu dengan segala dalih kita tidak dibelikan es. Orangtua kita tentu ingin kita sembuh dulu baru boleh minum es yang lezat itu. Begitu pula dengan Allah, segala yang kita minta Allah tahu apa yang paling baik bagi kita.
Mungkin tidak sekarang, atau tidak di dunia ini Allah mengabulkannya. Karena Allah tahu yang terbaik yang kita tidak tahu. Kita sembuhkan dulu diri kita sendiri dari "pilek" dan "demam".... dan terus berdoa. 

Kosmologi Dalam Islam

Oleh M. Ikhsan

Gambar Ilustrasi
Filsafat, Logika dan Kepercayaan. Secara etimologi Kosmologi merupakan paduan kata Kosmos (cosmos) dan Logos, yang berarti ilmu tentang alam semesta. Dalam terminologinya salah satu pengertian kosmologi ialah serangkaian keyakinan dan pandangan universal yang tersistematis mengenai manusia dan alam semesta, atau secara umum mengenai ‘ke-ada-an’ (wujud).

Agama dan Kosmologi
Agama-agama monoteisme yang merupakan agama samawi dan hakiki memiliki tiga prinsip universal yang kolektif.  Pertama,keyakinan kepada Tuhan Yang Esa. Kedua, keyakinan kepada kehidupan yang abadi untuk setiap manusia di alam akhirat serta ganjaran dan pahala untuk setiap perbuatannya ketika hidup di alam duniaKetiga, keyakinan kepada pengutusan  para Nabi oleh Allah SWT untuk menuntun umat manusia kepada kesempurnaan dan kebahagiaan dunia dan akhirat. Tiga prinsip tersebut pada hakikatnya adalah jawaban untuk beberapa pertanyaan fundamental untuk setiap orang yang arif dan bijak yaitu, apa dan siapakah kausa prima atau sumber pertama wujud alam semesta ini?  Apa relasi manusia (aktivitas) dengan wujud alam semesta? Dan Apakah akhir dari kehidupan ini?  Dalam hal ini kosmologi mencoba memberikan jawaban pada prinsip kedua di atas.
Baca Juga; Akhir dari Ilmu Pengetahuan

Kosmologi dan keImanan (Tauhid)
Kosmologi pada dasarnya adalah bagian dari instrumen memahami arkanul iman dalam aspek iman kepada Qada dan Qadar, dan iman kepada hari akhir. Kosmologi jualah yang memberikan benang merah dari relasi antara Tuhan (Allah swt), manusia dan alam semesta. Dengan pemahaman yang benar tentang kosmologi, maka dapat menciptakan harmoni dalam hubungan antara Tuhan, manusia dan alam semesta (Tauhid)1.
Di tengah umat manusia terdapat aneka ragam kosmologi.  Semuanya bisa dibagi dalam dikotomi kosmologi ketuhanan (teisme) dan kosmologi materialisme.  Penganut kosmologi materialisme dulu disebut zindiq atau mulhid (ateis), sedangkan sekarang lazim disebut materialis. Mari kita tinjau lagi dua pandangan materialisme tentang alam semesta :
1. Alam semesta telah ada sejak waktu yang tak terbatas, dan karena tidak mempunyai awal atau akhir, alam semesta tidak diciptakan.
2. Segala sesuatu dalam alam semesta hanyalah hasil peristiwa kebetulan dan bukan produk rancangan, rencana, atau visi yang di-sengaja.
Kedua pandangan ini dikemukakan dengan berani dan dibela mati-matian oleh materialis abad ke-19, yang tentu saja tidak punya jalan lain kecuali bergantung kepada pengetahuan ilmiah zaman mereka yang terbatas dan tidak canggih. Kedua pendapat itu telah dibantah sepe-nuhnya dengan penemuan-penemuan sains abad ke-20.
Dampak dari kedua pandangan materialisme ini adalah mengingkari keberadaan Sang Maha Pencipta, yaitu Allah2. Dengan mereduksi segala sesuatu ke tingkat materi, teori ini mengubah manusia menjadi makhluk yang hanya berorientasi kepada materi dan berpaling dari nilai-nilai moral. Ini adalah awal dari bencana besar yang akan menimpa hidup manusia. Kerusakan ajaran materialisme tidak hanya terbatas pada tingkat individu. Ajaran ini juga mengarah untuk meruntuhkan nilai-nilai dasar suatu negara dan masyarakat dan menciptakan sebuah masyarakat tanpa jiwa dan rasa sensitive , yang hanya memperhatikan aspek materi. Anggota masyarakat yang demikian tidak akan pernah memiliki idealisme seperti patriotisme, cinta bangsa, keadilan, loyalitas, kejujuran, pengorbanan, kehormatan atau moral yang baik, sehingga tatanan sosial yang dibangunnya pasti akan hancur dalam waktu singkat. Karena itulah, materialisme menjadi salah satu ancaman paling berat terhadap nilai-nilai yang mendasari tatanan politik dan sosial suatu bangsa. Satu lagi kejahatan materialisme adalah dukungannya terhadap ideologi-ideologi anarkis dan bersifat memecah belah, yang mengancam kelangsungan kehidupan negara dan bangsa3. Di suatu masyarakat yang orang-orangnya hidup hanya demi pemuasan hasrat mereka sendiri, tentu mustahil perdamaian, percintaan, dan persahabatan dilestarikan. Di masyarakat seperti ini, hubungan antara manusia bergantung pada kepentingan yang timbal-balik. Rasa saling curiga berlangsung dengan kuat. Ketika tiada alasan untuk tulus, jujur, bisa dipercaya, atau berbudi mulia, tiada yang suka hidup dalam penipuan, pembohongan, dan pengkhianatan.
Baca Juga; Tuhan Tidak Pernah Benar
Namun sejak awal, kita melihat bahwa materialisme telah runtuh karena gagasan tentang kekekalan materi telah dihancurkan oleh teori Dentuman Besar (Big Bang), yang menunjukkan bahwa jagat raya diciptakan dari ketiadaan. Yang terkubur pertama kali adalah pendapat bahwa alam semesta sudah ada sejak waktu yang tak terbatas. Sejak tahun 1920-an, telah muncul bukti tegas bahwa pendapat ini tidak mungkin benar. Para ilmuwan sekarang merasa pasti bahwa jagat raya tercipta dari ketiadaan, sebagai hasil suatu ledakan besar yang tak terbayangkan, yang dikenal sebagai "Dentuman Besar (Big Bang)". Dengan kata lain, alam semesta terbentuk, atau tepatnya, diciptakan oleh Allah. Abad ke-20 juga menyaksikan kehancuran klaim materialis yang kedua:bahwa segala sesuatu di jagat raya adalah hasil dari kebetulan dan bukan rancangan. Riset yang diadakan sejak tahun 1960-an dengan konsisten menunjukkan bahwa semua keseimbangan fisik alam semesta umumnya dan bumi kita khususnya dirancang dengan rumit untuk memungkinkan kehidupan. Ketika penelitian ini diperdalam, di-temukan bahwa setiap hukum fisika, kimia, dan biologi, setiap gaya-gaya fundamental seperti gravitasi dan elektromagnetik, dan setiap detail struktur atom dan unsur-unsur alam semesta sudah diatur dengan tepat sehingga manusia dapat hidup. Ilmuwan masa kini menyebut de-sain luar biasa ini "prinsip antropis". Prinsip ini menyatakan bahwa setiap detail alam semesta telah dirancang dengan cermat untuk me-mungkinkan manusia hidup.

Bencana akibat kesalah pahaman terhadap kosmologi
Akhir-akhir kita sering mendengar, menonton dan bahkan merasakan banyaknya bencana alam yang terjadi di sekeliling kita, di negara kita dan bahkan di dunia. Hal tersebut tidak lain adalah akibat ulah tangan manusia, mereka mengeksploitasi alam layaknya alam ini tak punya kekuatan dan daya untuk membalas perbuatan manusia. Hukum alam adalah mutlak sehingga mengeksploitasi alam dengan sewenang-wenang tanpa mempertimbangkan dampak kelestariannya maka sama saja dengan mengobrak-abrik hukum alam yang tentu saja adalah hukum Tuhan (Allah swt). Jika keseimbangan alam sudah terganggu, jangan pernah berharap suhu global bisa turun, lapisan ozon bisa menebal, erosi, banjir dan tanah longsor tidak terjadi, gempa dan tsunami akan teredam.

Setiap aktivitas manusia yang tidak mempertimbangkan kehidupan alam sekitarnya akan memberikan konstribusi bagi cepatnya kedatangan hari Kiamat.
Kosmologi dan Ibrah bagi manusia
Di sinilah kita melihat bahwa kosmologi adalah instrument untuk memahami iman kepada Qada dan Qadar dan iman kepada hari akhir, yang merupakan kesatuan tauhid (arkanul iman/rukun iman), yakni :
1.  Setiap penciptaan tidaklah dengan sia-sia tetapi pasti memiliki qadar (ketentuan/ukuran dan fungsi)nya masing-masing, bagaimana matahari beredar pada orbitnya4, langit tanpa tiang dan gunung yang dipancangkan5,  yang dengan itulah sesungguhnya setiap ciptaan bertasbih kepada sang Khalik
2.  Setiap ciptaan tunduk pada ketentuan yang ditetapkan padanya, yang dalam bahasa sains disebut hukum alam6, sementara manusia memiliki pilihan hidup yang dengan itu pula ia diberikan ganjaran sesuai perbuatannya7.
3.  Alam semesta dan semua yang ada memiliki kesudahan atau akhir yang pasti (hari akhir /kiamat)8
4.  Bahwa manusia memiliki peran dan tanggung jawab terhadap pengelolaan alam 9yang merupakan bagian dari peribadatan kepada Allah swt.

Bagaimana seorang Muslim bersikap
Setelah memahami kosmologi, maka seorang muslim diharapkan :
1.  Alam semesta dan lingkungan pada khususnya adalah anugrah Tuhan yang harus dijaga dan dilestarikan, tidak boleh di rusak
2.  Berkewajiban melakukan konservasi sumber daya alam dan ekosistem sehingga terpelihara kelestariannya demi kesejahteraan dan kemaslahatan umat manusia serta keseimbangan system kehidupan di alam raya ini.
3.  Setiap kita dituntut untuk mempraktekkan dan membudayakan pola hidup ramah lingkungan.
4.  Mencegah terjadinya eksploitasi alam yang serampangan secara individu dan kolektik bersama instansi terkait.
Baca Juga; Sains Dari Tuhan

Khatimah
Begitulah, melalui sains manusia mencoba mendeskripsikan apa dan bagaimana proses fenomena alam bisa terjadi dalam konteks eksperimen dan pengamatan, dengan parameter yang bisa diamati dan diukur. Agama memperluas spektrum makna alam semesta bagi manusia tentang kehadiran benda-benda alam semesta, kehidupan dan manusia. Jawaban singkat tentang pertanyaan Siapa pencipta alam semesta beserta hukum-hukum alamnya: Allah adalah zat yang Maha Pencipta. Agama memper-luas pengetahuan yang dicakup oleh metodologi sains dan rasionalitas manusia seperti berkenalan dengan alam gaib, akhirat dan sebagainya. Namun begitu, rupanya berbagai pertanyaan manusia tentang misteri alam semesta di sekitar planet Bumi masih banyak yang belum terjawab atau mungkin tak berjawab hingga kehancuran Bumi.
Referensi nash Al Qur`an :
1.  Ali Imran : 190-191              6. Fushshilat : 11          
2.  Al An`am : 116                   7. Asy Syams : 8 - 10
3.  Surat Huud, 92                   8. Az  Zalzalah
4.  Al Anbiya : 33                    9. Al Baqarah : 30
5.  Luqman : 10

Rujukan :
Sarwar, HG. 1994. Filsafat Al Qur`an. PT Rajagrafindo persada. Jakarta
Yahya . H, 2002. Mengenal Allah lewat Akal. Rabbani press. Jakarta
Yahya . H, 2002. Penciptaan Alam Semesta. Rabbani press. Jakarta
Yahya . H, 2002. Keruntuhan Teori Evolusi. Rabbani press. Jakarta
Yahya. H, 2002. Ledakan Big Bang menggema ke segenap penjuru Alam Semesta. Artikel. 
PP Muhammadiyah, 2001. Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah. Suara Muhammadiyah. Jogjakarta

Akhir Dari Ilmu Pengetahuan

Facing the Limits of Knowledge in the Twilight of Scientific   
Introduksi:  Mencari 'Jawaban Akhir'

Gambar Ilustrasi

Filsafat, Logika dan Kepercayaan. Penrose berspekulasi bahwa kunci dari kesadaran mungkin tersembunyi di celah antara kedua teori utama ilmu fisika modern, yakni mekanika kuantum, yang menguraikan elektromagnetisme dan gaya-gaya nuklir, dan relativitas umum, teori Einstein tentang gaya berat. Banyak ahli fisika, mulai dengan Einstein, telah mencoba dan gagal memadukan mekanika kuantum dan relativitas umum ke dalam suatu teori "penyatuan" yang tunggal, tanpa sambungan. Di dalam bukunya, Penrose membuat sketsa tentang bagaimana kira-kira tampaknya teori penyatuan itu, dan bagaimana teori itu dapat menghasilkan pikiran.
            Skemanya, yang melibatkan efek-efek kuantum dan gravitasional yang eksotik, yang meresapi otak, terasa kabur, berliku-liku, tanpa didukung bukti-bukti dari ilmu fisika maupun sains syaraf. Tetapi jika kelak ternyata benar dari segi mana pun, itu akan merupakan pencapaian yang monumental, sebuah teori yang sekaligus akan menyatukan ilmu fisika dan memecahkan salah satu masalah filosofis yang paling tangguh, yakni hubungan antara jiwa dan badan. Saya pikir, ambisi Penrose itu saja sudah cukup menjadikannya tokoh yang pantas untuk diprofilkan di majalah Scientific American, yang
mempekerjakan saya sebagai staf penulisnya.
            Ketika saya tiba di bandara Syracuse, Penrose telah menunggu saya. Ia seorang yang mirip malaikat, berambut hitam ikal, dan tampak sekaligus tidak peduli dan sangat waspada. Sementara ia mengendarai mobil yang membawa kami ke kampus Syracuse, ia terus-menerus bimbang apakah ia tidak salah jalan. Ia tampak tenggelam di dalam berbagai misteri. Saya mendapati diri saya dalam kedudukan yang menggelisahkan dengan mengusulkan agar ia berbelok ke sini dan berputar ke sana, sekalipun saya belum pernah mengunjungi Syracuse..


            Alhasil, sekalipun kami berdua sama-sama tidak tahu jalan, kami berhasil mencapai dengan selamat gedung tempat Penrose bekerja. Ketika memasuki kamar kerja Penrose, kami mendapati seorang rekan kerjanya meninggalkan sekaleng aerosol yang berwarna cerah bertuliskan "Superstring" di atas mejanya. Ketika Penrose memencet tombol di tutup kaleng itu, suatu bahan semacam spageti berwarna hijau meloncat dari kaleng itu melintasi ruangan.
            Penrose tersenyum saja melihat gurauan rekannya itu. 'Superstring' bukan hanya nama suatu mainan anak-anak, melainkan juga nama dari suatu partikel hipotetik yang mirip benang dan sangat kecil, yang diduga adanya dalam suatu teori fisika populer. Menurut teori itu, gerakan benang-benang ini di dalam ruang berdimensi sepuluh menghasilkan semua materi dan energi di alam semesta ini dan bahkan ruang dan waktu itu sendiri. Banyak ahli fisika terkemuka di dunia merasa bahwa teori superstring mungkin merupakan teori penyatuan yang mereka cari selama ini; beberapa di antara mereka malah menamakannya teori segala sesuatu. Penrose bukanlah termasuk orang yang percaya itu. "Itu tidak mungkin benar," katanya. "Bukan itu jawaban yang saya harapkan." Saya mulai menyadari, sementara
            Penrose berbicara, bahwa baginya 'jawaban' itu lebih daripada sekadar teori fisika, sekadar cara mengorganisasikan data dan meramalkan peristiwa. Ia bicara tentang 'Jawaban Akhir': rahasia kehidupan, jawaban terhadap teka-teki alam semesta.
            Penrose mengakui dirinya seorang Platonis. Para ilmuwan tidak menciptakan kebenaran; mereka menemukannya. Kebenaran-kebenaran yang sejati memancarkan keindahan, kelurusan, suatu kualitas yang terlihat jelas, yang memberinya kekuatan ilham. Menurut Penrose, teori superstring tidak memiliki sifat-sifat ini. Ia mengakui bawah "saran-saran" yang dikemukakannya di dalam "The Emperor's New Mind"--yang belum pantas disebut 'teori', katanya--agak kedodoran. Mungkin saja kelak ternyata salah, bahkan hampir pasti salah di dalam detailnya. Saya bertanya, apakah dengan berkata demikian, Penrose menyiratkan bahwa pada suatu hari kelak para ilmuwan akan menemukan 'Jawaban Akhir', dan dengan demikian mengakhiri seluruh pencarian ini?
            Tidak seperti sementara ilmuwan terkemuka, yang tampak menganggap sikap berhati-hati sama dengan kelemahan, Penrose malah berpikir sejenak sebelum menjawab, dan bahkan berpikir sambil menjawab.
"Saya rasa kita masih jauh," katanya perlahan-lahan, sambil memandang keluar jendela kamar kerjanya, "tapi itu tidak berarti bahwa pada suatu tahap tertentu tidak mungkin terjadi perkembangan yang pesat." Ia merenung lagi. "Saya rasa ini menunjuk ke arah adanya 'jawaban akhir'," lanjutnya, "sekalipun mungkin itu terlalu pesimistik." Kalimatnya yang terakhir itu membuat saya tertegun. Apanya yang pesimistik kalau seorang pencari kebenaran mengira bahwa kebenaran mungkin tercapai, tanya saya. "Memecahkan misteri memang baik," jawab Penrose. "Dan jika semua misteri telah terpecahkan, bagaimana pun juga sedikit banyak akan membosankan." Lalu ia bergumam, seolah-olah terkejut oleh keanehan kata-katanya sendiri.
            Lama setelah meninggalkan Syracuse, saya merenungkan kata-kata Penrose. Mungkinkah sains berakhir? Dapatkah para ilmuwan mempelajari segala sesuatu yang dapat dipelajari? Dapatkah mereka mengenyahkan misteri dari alam semesta? Sukar bagi saya membayangkan dunia tanpa sains, dan itu bukan hanya karena pekerjaan saya bergantung padanya. Saya menjadi penulis sains sebagian besar disebabkan karena saya menganggap sains—sains murni, yakni mencari pengetahuan demi pengetahuan itu sendiri--sebagai upaya manusia yang paling mulia dan paling bermakna. Kita ada di sini untuk memahami mengapa kita ada di sini. Tujuan apa lagi yang lebih pantas bagi manusia?
            Saya tidak selamanya tergila-gila pada sains. Di kolese, saya melewati suatu tahap ketika kritik sastra saya lihat sebagai kegiatan intelektual yang paling menggairahkan. Namun, pada suatu larut malam, sehabis minum banyak kopi, dan menghabiskan berjam-jam menulis suatu tafsiran baru terhadap karya James Joyce Ulysses, saya mengalami krisis kepercayaan. Berbagai orang pandai telah berdebat selama berpuluh tahun tentang makna Ulysses. Tetapi salah satu pesan kritisisme modern, dan sastra modern, adalah bahwa semua naskah bersifat "ironik"; semua memiliki makna ganda, tidak satu pun definitif. Oedipus Rex, Inferno, bahkan Alkitab dalam suatu makna hanya sekadar "bercanda", tidak perlu dianggap terlalu literal. Argumentasi tentang makna tidak pernah dapat terselesaikan, oleh karena satu-satunya makna sejati dari suatu naskah adalah naskah itu sendiri. Sudah tentu, pesan ini pun berlaku untuk para kritikus itu sendiri. Yang tinggal akhirnya adalah regresi tafsir-tafsir tanpa akhir, dan tidak satu pun darinya merupakan kata akhir. Tetapi setiap orang tetap berdebat! Untuk apa? Agar masing-masing kritikus tampak lebih cerdik, lebih menarik, daripada yang lain? Semuanya tampak tidak berarti lagi.
            Sekalipun bidang studi utama saya adalah bahasa Inggris, saya mengambil sekurang-kurangnya satu mata kuliah sains atau matematika setiap semester. Memecahkan soal-soal kalkulus atau fisika merupakan pergantian suasana yang menyenangkan dari tugas-tugas bidang humanities yang kacau; saya memperoleh kepuasan yang mendalam dalam menemukan jawaban yang benar dari suatu soal. Semakin saya mengalami frustrasi terhadap sudut pandang ironik dari sastra dan kritik sastra, semakin saya mengapresiasikan pendekatan sains yang lugas dan tidak omong-kosong. Para ilmuwan mampu mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan memecahkannya dengan cara yang tak dapat dilakukan oleh para kritikus, filsuf, dan ahli sejarah. Teori-teori diuji secara eksperimental, dibandingkan dengan realitas, dan yang tidak sesuai dibuang. Kekuatan sains tidak dapat dimungkiri: sains telah memberikan kepada kita komputer dan pesawat jet, vaksin dan bom termonuklir, berbagai teknologi yang, baik atau buruk, telah mengubah jalan sejarah. Sains, lebih dari modus pengetahuan lainnya--kritik sastra, filsafat, seni, agama--menghasilkan pencerahan yang lestari tentang hakikat benda-benda. Sains telah membawa kita sampai sejauh ini.
            Pencerahan-mini saya pada akhirnya membawa saya menjadi penulis sains. Peristiwa itu juga mewariskan kepada saya suatu kriteria sains: sains menggarap masalah-masalah yang dapat dijawab, setidak-tidaknya dalam prinsip, asal saja tersedia cukup waktu dan sumber daya.
            Sebelum saya bertemu dengan Penrose, saya menganggap sains itu tidak berujung, bahkan tidak terbatas. Kemungkinan bahwa para ilmuwan pada suatu hari kelak menemukan suatu kebenaran yang begitu hebat sehingga tidak memerlukan penyelidikan-penyelidikan lebih jauh saya anggap paling-paling isapan jempol, atau semacam hiperbola yang dibutuhkan untuk menjual sains (atau buku-buku sains) kepada masyarakat awam. Kesungguhan, dan ambivalensi, dari Penrose dalam mengkaji prospek suatu teori final memaksa saya menilai kembali pandangan-pandangan saya tentang masa depan sains.
            Sementara waktu berjalan, saya menjadi terobsesi dengan masalah itu. Apakah batas-batas sains itu, jika batas itu ada? Apakah sains tidak terbatas, ataukah ia fana seperti kita? Jika fana, apakah akhir dari sains sudah terlihat? Sudah menjelang?
            Setelah pembicaraan saya yang pertama dengan Penrose, saya mencari ilmuwan-ilmuwan lain yang mengadu otak mereka dengan batas pengetahuan: para ilmuwan fisika partikel, yang bermimpi tentang suatu teori terakhir dari materi dan energi; para ahli kosmologi, yang mencoba memahami secara tepat bagaimana dan kapan alam semesta kita tercipta; para ahli biologi evolusioner, yang mencoba menetapkan bagaimana asal mula kehidupan, serta hukum-hukum apa yang mengatur pemekarannya kemudian; para ahli neurosains yang meneropong proses-proses dalam otak yang menghasilkan kesadaran; para penjelajah khaos dan kompleksitas, yang berharap dengan komputer dan teknik-teknik matematis baru dapat menghidupkan kembali sains. Saya juga bicara dengan para filsuf, termasuk beberapa orang yang dikabarkan meragukan apakah sains akan pernah mencapai kebenaran yang objektif dan mutlak. Saya menulis sejumlah artikel tentang ilmuwan dan filsuf ini untuk majalah Scientific American.
            Ketika pertama kali saya berpikir untuk menulis sebuah buku, saya membayangkannya sebagai suatu seri potret, yang menampilkan sampai ke bisul-bisulnya, dari semua pencari kebenaran dan penolak kebenaran yang dapat saya wawancarai. Saya bermaksud menyerahkan kepada pembaca untuk menentukan sendiri, mana ramalan masa depan sains yang masuk akal dan mana yang tidak. Bagaimana pun juga, siapakah yang sungguh-sungguh tahu, apakah batas terakhir dari pengetahuan? Tetapi berangsur-angsur, saya mulai membayangkan bahwa saya tahu; saya merasa yakin bahwa satu skenario tertentu lebih mungkin ketimbang semua yang lain. Saya memutuskan untuk tidak menganut keobyektifan jurnalistik, dan menulis sebuah buku yang terang-terangan menilai, bersifat argumentatif, dan personal. Sementara tetap berfokus pada ilmuwan dan filsuf secara individual, buku ini akan menyajikan pula pandangan saya. Saya merasa pendekatan itu akan lebih sesuai dengan keyakinan saya bahwa kebanyakan pernyataan tentang batas-batas pengetahuan pada akhirnya bersifat sangat idiosinkratik (bersifat khas individual).

Baca Juga; Sains Dari Tuhan

            Sekarang sudah jelas bahwa ilmuwan bukanlah sekadar mesin penghasil pengetahuan; mereka dituntun oleh emosi dan intuisi di samping penalaran dingin dan perhitungan. Saya mendapati, ilmuwan jarang menunjukkan sifat manusiawinya, begitu terombang-ambing oleh ketakutan dan keinginan mereka, seperti ketika mereka berhadapan dengan batas-batas pengetahuan. Para ilmuwan yang terbesar semata-mata berharap untuk menemukan kebenaran-kebenaran tentang alam semesta (di samping memperoleh ketenaran, hadiah, dan jabatan di perguruan tinggi, serta memperbaiki kehidupan umat manusia); mereka ingin tahu. Mereka berharap, dan percaya, bahwa kebenaran [terakhir] dapat dicapai, bukan sekadar ideal atau asimtot (pendekatan), yang mereka dekati terus-menerus. Mereka juga percaya, seperti saya juga, bahwa pencarian pengetahuan adalah kegiatan manusia yang paling mulia dan paling berarti.
            Ilmuwan yang menganut kepercayaan ini sering kali dituduh arogan. Beberapa memang arogan, bahkan sangat arogan. Tetapi saya mendapati, banyak yang lain yang merasa cemas alih-alih arogan. Dewasa ini adalah masa-masa sulit bagi pencari kebenaran. Kegiatan ilmiah terancam oleh kaum teknofob (orang yang fobi terhadap teknologi), pejuang hak asasi binatang, kaum fundamentalis agama, dan yang paling penting, para politisi kikir. Berbagai kendala sosial, politis, dan ekonomis membuat lebih sukar untuk mempraktekkan sains, khususnya sains murni, di masa depan.
            Lagipula, sains sendiri, sambil maju, selalu menetapkan batas-batas pada kekuatannya sendiri. Teori relativitas khusus Einstein melarang penyebaran materi atau bahkan informasi pada kecepatan lebih dari kecepatan cahaya; mekanika kuantum mendalilkan bahwa pengetahuan kita tentang alam mikro akan selalu tidak pasti; teori khaos menguatkan bahwa, sekalipun tanpa ketidakpastian kuantum, banyak fenomena tidak mungkin diramalkan; dalil ketidaklengkapan kurt Goedel memustahilkan penyusunan suatu deskripsi matematis yang lengkap dan konsisten dari realitas. Dan biologi evolusioner terus-menerus mengingatkan kita bahwa kita adalah hewan, yang didesain oleh seleksi alamiah bukan untuk menemukan kebenaran-kebenaran mendalam tentang alam semesta, melainkan untuk berkembang biak.
            Kaum optimis, yang berpendapat bahwa mereka dapat mengatasi semua batas-batas ini, masih harus menghadapi lawan lain, mungkin yang paling merisaukan. Apakah yang akan dilakukan oleh para ilmuwan, jika mereka berhasil mengetahui apa yang dapat diketahui? Lalu, apakah tujuan hidup sesudah itu? Apa tujuan umat manusia sesudah itu? Roger Penrose mengungkapkan kecemasannya terhadap dilema ini ketika ia menyebut impiannya tentang suatu teori terakhir sebagai pesimistik.
            Menghadapi masalah-masalah yang menggelisahkan ini, tidak heran bila banyak ilmuwan yang saya wawancarai untuk buku ini tampak tercekam oleh kebimbangan yang mendalam. Tetapi malaise mereka, menurut saya, mempunyai akar lain yang lebih langsung. Jika kita peracya akan sains, kita harus menerima kemungkinan—atau kemungkinan besar--bahwa zaman penemuan sains yang besar telah lewat. Yang saya maksud dengan sains bukanlah sains terapan, melainkan sains yang paling murni dan paling besar, yakni upaya primordial manusia untuk memahami alam semesta dan tempat kita di dalamnya. Penelitian lebih jauh mungkin tidak akan memberikan lagi pencerahan dan revolusi besar, melainkan sekadar hasil-hasil tambahan yang makin lama makin kecil.
            Kecemasan Pengaruh Ilmiah
            Dalam mencoba memahami suasana hati para ilmuwan modern, saya mendapati bahwa ide-ide dari kritik sastra dapat dimanfaatkan. Dalam esainya pada th 1973 yang berpengaruh, "The Anxiety of Influence" (Kecemasan Pengaruh), Harold Bloom menyamakan penyair modern dengan Setan dalam karya Milton, "Paradise Lost". Seperti Setan yang berjuang untuk menampilkan individualitasnya dengan menantang kesempurnaan Tuhan, begitu pula penyair modern terlibat pergulatan seperti Oedipus untuk menemukan jatidirinya dalam hubungannya dengan Shakespeare, Dante, dan para master besar lainnya. Upaya itu mau tidak mau akan sia-sia, kata Bloom, karena tidak ada penyair bisa berharap untuk mendekati, apalagi melampaui, kesempurnaan para pendahulu itu. Semua penyair modern pada dasarnya adalah tokoh-tokoh tragis, pendatang belakangan.
            Para ilmuwan modern pun pendatang belakangan, dan beban mereka jauh lebih berat ketimbang para penyair. Para ilmuwan tidak hanya harus menerima "King Lear" dari Shakespeare, tapi juga hukum-hukum gerak dari Newton, teori seleksi alamiah dari Darwin, dan teori relativitas umum dari Einstein. Teori-teori ini bukan hanya indah; mereka juga benar, benar secara empiris, sedemikian rupa tidak dapat ditiru oleh suatu karya seni. Kebanyakan peneliti terpaksa mengakui ketidakmampuan mereka untuk melampaui apa yang oleh Bloom disebut "kejengahan suatu tradisi yang sudah menjadi begitu kaya sehingga tidak membutuhkan apa-apa lagi." Mereka mencoba memecahkan apa yang secara merendahkan disebut oleh filsuf ilmu Thomas Kuhn sebagai "teka-teki" (puzzles), yakni problem-problem yang pemecahannya sekadar mendukung paradigma yang ada (tidak menghasilkan paradigma baru). Mereka sekadar memperhalus dan menerapkan temuan-temuan rintisan yang brilyan dari para pendahulu mereka. Mereka mencoba mengukur massa quark dengan lebih teliti, atau menetapkan bagaimana suatu bagian tertentu dari DNA menuntun perkembangan otak embrionik. Sedangkan yang lain menjadi apa yang dilecehkan oleh Bloom sebagai "sekadar pemberontak, penjungkir-balik kekanak-kanakan dari kategori-kategori moral konvensional." Para pemberontak ini mengecilkan arti teori-teori  ilmiah yang dominan sebagai rekayasa sosial yang rapuh, alih-alih sebagai deskripsi dari alam yang teruji secara ketat.
            Apa yang oleh Bloom disebut "penyair kuat" menerima kesempurnaan para pendahulu mereka, namun berupaya melampauinya dengan berbagai muslihat, termasuk penyalahtafsiran secara halus terhadap karya-karya pendahulu mereka; hanya dengan demikian para penyair modern dapat membebaskan diri dari pengaruh masa lampau yang melumpuhkan. Terdapat pula para "ilmuwan kuat", yakni mereka yang mencoba menyalahtafsirkan, dan dengan demikian mengatasi, mekanika kuantum atau teori "big bang" atau evolusi Darwin. Roger Penrose adalah seorang ilmuwan kuat. Untuk sebagian besar, ia dan orang-orang lain sejenisnya hanya mempunyai satu pilihan: yakni menjalankan sains dengan cara yang spekulatif, pasca-empiris, yang saya sebut "sains ironis". Sains ironis menyerupai kritik sastra dalam hal menyajikan sudut pandang-sudut pandang, opini-opini, yang setidak-tidaknya menarik, yang merangsang komentar lebih lanjut.
            Tetapi sains ironis tidak mendekat kepada kebenaran. Ia tidak dapat mencapai kejutan-kejutan yang dapat dibuktikan secara empiris, yang memaksa para ilmuwan mengadakan perbaikan penting dalam deskripsi mereka tentang realitas. Strategi yang paling sering dipakai oleh kaum ilmuwan kuat adalah menampilkan semua kelemahan dari pengetahuan ilmiah yang ada sekarang, semua pertanyaan yang belum terjawab. Tetapi pertanyaan-pertanyaan itu mungkin tidak akan pernah terjawab secara definitif oleh karena keterbatasan sains manusiawi. Bagaimana persisnya alam semesta ini tercipta? Mungkinkah alam semesta kita merupakan satu saja dari sejumlah alam semesta yang tak terbatas banyaknya? Mungkinkah quark dan elektron terdiri dari partikel-partikel yang lebih kecil lagi, dan seterusnya ad infinitum? Apakah makna sesungguhnya dari mekanika kuantum? (Kebanyakan pertanyaan tentang makna hanya dapat dijawab secara ironis, sebagaimana diketahui dalam kritik sastra.) Biologi juga mempunyai teka-tekinya sendiri yang tak terpecahkan. Bagaimana persisnya kehidupan mulai di bumi? Apakah terjadinya kehidupan dan perjalanan evolusinya seperti yang kita lihat ini bersifat niscaya (tidak mungkin ada alternatif lain)?
            Pelaku sains ironis mempunyai satu kelebihan dibandingkan penyair kuat: yakni selera pembaca awam terhadap "revolusi" ilmiah. Sementara sains empiris membatu, para jurnalis seperti saya, yang memuaskan kehausan masyarakat, akan mengalami tekanan yang semakin berat untuk menampilkan teori-teori yang dianggap melampaui mekanika kuantum atau teori "big bang" atau seleksi alamiah. Bagaimana pun juga, para jurnalislah yang sebagian besar bertanggung-jawab bagi terciptanya kesan populer bahwa bidang-bidang seperti khaos dan kompleksitas mewakili sains baru yang lebih tinggi daripada metode reduksionis dari Newton, Einstein, dan Darwin. Para jurnalis, termasuk saya, telah membantu ide-ide tentang kesadaran dari Roger Penrose diterima oleh kalangan yang jauh lebih luas dari yang sepatutnya, menilik kedudukannya yang lemah di kalangan ahli neurosains profesional.
            Saya tidak bermaksud menyiratkan bahwa sains ironis tidak punya nilai. Jauh dari itu. Setidak-tidaknya, sains ironis, seperti juga seni dan filsafat yang besar, atau bahkan kritik sastra, membangkitkan kekaguman dalam diri kita; ia memelihara ketakjuban kita di hadapan misteri alam semesta. Tetapi ia tidak dapat mencapai cita-cita mengatasi kebenaran yang telah kita miliki. Dan jelas ia tidak bisa memberikan kepada kita--malah, ia melindungi kita dari--"Jawaban Terakhir", yakni suatu kebenaran yang begitu kuat sehingga melenyapkan keingintahuan kita untuk selama-lamanya. Bagaimana pun juga, sains sendiri mendalilkan bahwa kita sebagai manusia selamanya harus puas dengan kebenaran-kebenaran sebagian.


            Di dalam sebagian besar dari buku ini, saya akan memeriksa sains seperti yang dipraktekkan pada hari ini, oleh manusia. (Bab 2 membahas filsafat.) Dalam dua bab terakhir, saya membahas kemungkinan--yang dikemukakan oleh ilmuwan dan filsuf yang jumlahnya mengejutkan--bahwa pada suatu hari kelak kita manusia akan menciptakan mesin yang cerdas yang dapat mengatasi pengetahuan kita yang kerdil. Dalam versi favorit saya tentang skenario ini, mesin-mesin akan mengubah seluruh kosmos ini menjadi jaringan pemroses informasi yang terpadu. Semua materi menjadi batin. Jelas, proposal ini bukan sains, melainkan impian indah. Namun itu mengangkat sejumlah pertanyaan menarik, pertanyaan yang biasanya dibahas oleh para ahli teologi. Apakah yang akan dilakukan oleh sebuah komputer kosmik yang mahakuasa? Apakah yang akan dipikirkannya? Saya hanya dapat membayangkan satu kemungkinan. Ia akan mencoba menemukan "Jawaban Terakhir", jawaban yang tersembunyi di balik semua pertanyaan, seperti seorang aktor yang memainkan semua peran dari suatu lakon: Mengapa ada, dan bukan tidak ada? Di dalam upayanya menemukan "Jawaban Terakhir" terhadap "Pertanyaan  Terakhir", batin universal itu mungkin menemukan batas terakhir dari pengetahuan.
 _________________________________________________________________
 Diterjemahkan dari John Horgan, "The End of Science: Facing the Limits of
 Knowledge in the Twilight of Scientific Age", 1997,

>

Tuhan Tidak Pernah Benar

Oleh: Gede Prama
Gambar Ilustrasi
Filsafat, Logika dan Kepercayaan.  Setiap jenjang kedewasaan yang lebih tinggi, demikian pengalaman saya bertutur, sering kali mentertawakan jenjang kedewasaan di bawahnya. Ketika baru saja mulai belajar bekerja sebagai seorang sarjana baru di salah satu perusahaan Jepang, kerap kali dalam rapat saya ditertawakan orang karena berbicara dengan jargon-jargon universitas yang asing. Tatkala baru belajar berbicara di depan umum, tidak sedikit orang yang mengatakan bahwa muka saya merah ketika didebat orang. Pada saat baru belajar memimpin orang, sejumlah bawahan memberi masukan kalau saya mudah sekali tersinggung. Pada tahapan-tahapan tertentu dalam kehidupan saya sebagai manusia, pernah terjadi Tuhan tidak pernah saya anggap benar. Ketika belum jadi manajer, memohon ke Tuhan agar jadi manajer. Namun, begitu merasakan beratnya duduk di kursi pimpinan ini, maka Tuhanpun disesalkan. Tatkala, naik bus kota sering berdoa agar punya mobil. Saat mobil sudah di tangan, kemudian menggerogoti kantong dengan seluruh kerusakannya, maka salah lagilah Tuhan.
Sekarang, ketika tabungan pengalaman dan kesulitan telah bertambah, rambut sudah mulai memutih, badan dan jiwa mulai lebih tahan bantingan, terlihat jelas, betapa naif dan kekanak-kanakannya saya pernah jadi manusia.
Yang membuat saya super heran, kalau bertemu orang dengan umur yang jauh lebih tua dari saya, tetapi memiliki tingkat kenaifan yang sama dengan saya ketika masih amat muda.
Bekerja dengan orang lain, bahkan termasuk dengan pemilik perusahaanpun, tidak ada yang dinilai benar dan pintar. Setiap orang, di mata orang ini, hanyalah kumpulan manusia yang tidak patut dihargai. Kecuali, tentunya manusia-manusia dengan isi kepala yang sama, atau mau berkorban menyesuaikan diri sepenuhnya.
Baca Juga : Sains Dari Tuhan
Di salah satu perusahaan yang menjadi klien saya, orang mengenal seorang pimpinan yang diberi stempel Mr. Complain. Semua orang di sekitarnya -dari sekretaris hingga boss besar- dikeluhkan begini dan begitu. Dengan saya, Tuhanpun sering di-complain. Dari salah profesi, keliru memilih istri, anak-anak yang tidak bisa diurus, sampai dengan pemilik perusahaan yang dia sebut super kampungan. Sebagai hasilnya, ia memiliki koleksi musuh yang demikian banyak, pindah kerja dari satu tempat ke tempat lain, dan yang paling penting memiliki kehidupan yang kering kerontang.
Di mata orang-orang seperti ini, Tuhan senantiasa tidak pernah benar. Sulit sekali bagi manusia jenis ini untuk menerima saja lingkungan dan rezekinya. Yang ada hanyalah keluhan, keluhan dan keluhan.
Dengan sedikit kejernihan, diri kita sebenarnya karunia Tuhan yang paling berharga. Anda dengan hidung, mata, bibir, kepribadian, ketrampilan, dan senyuman yang Anda miliki, hanya dimiliki oleh Anda sendiri.
Tukang jahit jarang sekali membuat satu model baju untuk satu orang saja. Pabrik mobil sangat sedikit yang membuat mobil hanya untuk satu orang saja. Arsitek sedikit yang gambarnya diperuntukkan hanya untuk satu orang saja. Kalaupun ada tukang jahit, pabrik mobil dan arsitek yang membuat disain khusus, dengan sangat mudah orang lain bisa menirunya.
Tetapi Tuhan, mendisain setiap manusia semuanya dengan keunikan. Bahkan, manusia kembarpun tetap unik. Dan yang paling penting, 111tidak ada satupun yang bisa meniru Anda dengan seluruh keunikan Anda. Bayangkan, betapa sulit dan besar energi yang dibutuhkan untuk mendisain sesuatu yang unik dan tidak bisa ditiru siapapun.
Baca Juga ; Agama dan Ilmu

Bercermin dari sini, disamping kita harus berterimakasih ke Tuhan karena menciptakan keunikan yang tidak ada tiruannya, sudah saatnya untuk mencari cara bagaimana keunikan dalam diri ini bisa dimaksimalkan.
Hidung saya yang tidak mancung ini tentu saja hanya milik saya seorang diri. Dulu ia menjadi sumber rasa minder, namun ketika ada orang yang mengatakan ini penuh keberuntungan, maka berubahlah dia sebagai energi keberhasilan. Orang Bali dengan logat Batak, hanyalah milik saya seorang diri, belakangan justru ini yang membuat pembicaraan saya khas. Penulis manajemen yang berkombinasi dengan konsultan, eksekutif dan bercampur dengan sedikit darah seniman, bisa jadi hanya menjadi milik saya seorang diri. Tidak semua orang suka tentunya dengan saya, tetapi inilah saya yang amat saya banggakan dan saya syukuri. Herannya, semakin banyak kebanggaan yang saya sukuri, badan ini menarik saya ke serangkaian kebanggaan yang lebih membanggakan lagi. Bahkan, terhadap satu unsur badan yang sebenarnya tidak berubah-sebagai contoh hidung dengan meningkatnya rasa sukur, ia tampak lebih menarik dan menarik. Demikian juga dengan istri, anak, mertua dan rezeki Tuhan lainnya. Mereka bertambah cantik, menarik dan mendukung sejalan dengan semakin banyaknya rasa syukur.
Kembali ke cerita awal tentang manusia yang kerap menempatkan Tuhan dalam posisi tidak benar selalu, sudah saatnya mungkin kita menerima dan menghargai seluruh keunikan yang hanya milik kita sendiri.
Kalau memiliki rumah, mobil, baju yang hanya didisain khusus untuk kita, tentu saja ia amat membahagiakan dan membanggakan. Demikian juga dengan tubuh dan jiwa ini. Ia hanya didisain khusus untuk kita.

Baik, buruk, cantik, ganteng, menarik, simpatik atau membosankan sekalipun, sebenarnya hanyalah judul dan stempel yang kita berikan ke tubuh unik yang kita bawa ke mana-mana ini. Bedanya, judul ini kemudian tidak hanya merubah mata Anda, tetapi juga mata orang lain dalam melihat diri Anda sendiri.

Baca Juga; Bukti Allah itu Ada


>

Sains Dari Tuhan


Gambar Ilustrasi
Filsafat, Logika dan Kepercayaan. Frustrasi oleh kegagalan mereka untuk membuktikan bahwa Tuhan tidak ada, ilmuwan memberikan spin baru: menjadi Tuhan.

Ini mungkin pertarungan kelas berat yang terpanjang dalam sejarah: di sudut merah, manusia dengan Jas Lab Putih, dan di sudut biru, Tuhan. Berabad-abad sains dan agama telah bertarung, setiap pihak dengan pendukung dan berharap akan pukulan knock-out. 


Anda mungkin berpikir manusia dengan Jas Lab Putih telah membuat lawannya bergantung di atas tali sejak ronde pertama 300 tahun yang lalu. Dari pukulan pertama mengenai apakah bumi mengelilingi matahari sampai dengan upper-cut dari teori evolusi, ilmuwan kelihatannya lebih banyak mengumpulkan nilai.


Apakah Tuhan sudah berakhir? Mungkin belum. Karena bagaimanapun keras mencoba, manusia dengan Jas Lab Putih belum dapat memberikan pukulan knock-out. Tuhan mungkin tidak berperan sebesar yang manusia kira, tetapi bukti yang nyata bahwa Dia hanyalah ilusi belum lagi ada. Kenyataannya, sebagian ilmuwan sekarang berpikir bahwa mereka melihat tanda-tanda Tuhan Juru Desain Besar dalam teori paling baru tentang alam semesta.

Sebagian bukti muncul dari "kebetulan" yang aneh dalam sifat-sifat kunci dari alam semesta, yang dikatakan oleh kosmologis tidak mungkin kebetulan. Karena kalau kebetulan ini tidak ada, kita juga tidak akan ada.

Kemudian ada motif-motif yang indah dan aneh dalam teori partikel sub-atomik, yang sifat-sifatnya jatuh ke dalam segi-enam dan segi- tiga: bentuk-bentuk yang membawa ilmuwan membuka dasar-dasar alam semesta.

Baca Juga; Fenomena ahok, apakah ahok haram di pilih muslim ??

Dalam Pikiran Tuhan

Dalam mencoba untuk membuka arti dari tanda-tanda ini, beberapa ilmuwan berpikir bahwa mereka mulai mendekati apa yang bahkan disebut oleh atheis terkenal Stephen Hawking sebagai Pikiran Tuhan: Rencana besar yang dibangun ke dalam alam semesta. Ada juga teori, yang kurang dikenal, bahwa kita cukup mengetahui tentang Disain Besar ini untuk mulai berperan sebagai Tuhan, menciptakan alam semesta bayi -- paling sedikit dalam abstrak. Ide bahwa alam penuh dengan tanda-tanda keberadaan pencipta yang cerdas bukanlah hal yang baru. Dulu, sejauh 1802, filsuf Inggris William Paley memberikan "Argumen dari desain" yang terkenal, mengklaim bahwa sesuatu yang kompleks dan alami seperti mata manusia tidak mungkin muncul karena kebetulan saja, tetapi memerlukan keberadaan dari desainer yang cerdas.

Tidak banyak lagi yang percaya pada argumen Paley tersebut: contoh-contohnya semua terbunuh oleh teori evolusi Darwin, yang memperlihatkan bahwa bahkan keajaiban seperti desain dari mata manusia dapat diterangkan oleh kombinasi dari random mutasi dan seleksi alam.

Tetapi, walaupun argumen Paley telah banyak berlubang oleh ahli-ahli biologi, penemuan dalam fisika fundamental mulai membuat ide penciptaan dari desain kelihatan tidak main-main.

Tanda-tanda awal bahwa alam semesta mungkin telah didesain untuk kehidupan ditemukan 50 tahun yang lalu oleh Sir Fred Hoyle, ilmuwan astrofisika dari Inggris. Ketika mempelajari bagaimana bintang-bintang membuat unsur-unsur kimia yang diperlukan untuk kehidupan manusia, Hoyle melihat bahwa apabila unsur-unsur ini tidak memiliki sifat-sifat tertentu, maka tidak akan ada karbon di alam semesta, dan dengan demikian tidak ada kehidupan manusia.

Kekuatan itu bersama kita

Sejak itu, ilmuwan telah menemukan banyak kebetulan-kebetulan aneh yang mirip. Sebagian termasuk gaya-gaya fundamental yang mengikat alam semesta. Sebagai contoh, inti dari setiap atom dibangun oleh proton dan neutron, diikat bersama oleh yang namanya gaya nuklir kuat. Jika gaya itu sedikit saja lebih lemah, proton-proton tidak akan terikat bersama. Ini berarti tidak ada unsur yang lebih berat dari hidrogen dapat berwujud -- lagi-lagi tidak ada karbon.

Tetapi, kalau gaya tersebut sedikit lebih kuat sedikit saja, proton- proton akan bersatu terlalu mudah sehingga hidrogen tidak mungkin ada sama sekali, dan ini membuat air tidak mungkin ada, bahan kunci yang lain yang diperlukan kehidupan.

Menurut Professor Sir Martin Rees dan Universitas Cambridge, lebih banyak lagi kebetulan-kebetulan dalam sifat-sifat partikel sub-atomik. Sebagai contoh, kenyataan bahwa massa elektron jauh lebih ringan dari masa proton atau neutron adalah penting untuk keberadaan bahan-bahan yang penting bagi kehidupan. "Ini adalah prasyarat untuk molekul- molekul seperti DNA untuk dapat memberikan strukturnya yang tepat dan berbeda", katanya. "Adalah massa elektron yang menentukan besarnya sebuah atom, dan jarak antara atom-atom dalam molekul."

Kenyataan bahwa proton dan neutron mempunyai massa yang hampir sama, tetapi berbeda sedikit, juga sangat penting bagi kehidupan, kata Rees. "Sebuah neutron lebih berat dari proton sekitar 0.14%, sedikit lebih dari seperseribu. Tetapi perbedaan ini, walaupun kecil, sangat penting karena melebihi massa total dari sebuah elektron. Apabila elektron tidak seringan itu, mereka akan berkumpul dengan proton untuk membentuk neutron, sehingga tidak mungkin ada hidrogen.

Alam mengambil bentuk

Tanda-tanda lebih jauh mengenai desain besar kosmos datang dalam bentuk motif-motif aneh yang muncul ketika sifat-sifat partikel sub-atomik seperti proton dan neutron dilukis dalam grafik. Ditemukan oleh  fisikawan dari Amerika Murray Gell-Mann hampir 40 tahun yang lalu, motif-motif ini berbentuk segi-enam dan segi-tiga, dimana berbagai partikel berada dalam titik-titik di dalamnya.

Ketika Gell-Mann pertama kali menemukan motif ini, terdapat gap-gap. Yakin bahwa motif ini bukan kebetulan tetapi bagian dari desain besar, dia memprediksi bahwa gap-gap ini diisi oleh partikel-partikel sub- atomik yang nanti akan ditemukan.

Gell-Mann melanjutkan bahwa segi-enam dan segi-tiga yang misterius dapat diterangkan apablila partikel seperti proton dan neutron mengandung partikel sub-sub-atomik (yang sekarang kita kenal sebagai quark). Semua prediksinya terbukti benar.

Motif-motif yang mirip dikenal sebagai "simetri" telah muncul demikian seringnya sejak itu dalam teori fisika yang sukses sehingga banyak fisikawan sekarang yakin bahwa mereka adalah bagian dari suatu desain besar dari alam semesta.

Tetapi sedikit yang ingin trus mengklaim bahwa simetri dan kebetulan yang kelihatannya ada dalam alam membuktikan bahwa Tuhan ada. "Masuknya sains dalam teologi atau filosofi dapat naive maupun dogmatik," kata Rees.

Diantara yang tidak merasa demikian adalah Professor Russel Stannard, seorang kristen dan professor fisika di universitas terbuka. "Tuhan memperlihatkan dirinya melalui dunia Big-bang kita ini," katanya. "Dia sebetulnya sedang berkata kepada kita melalui penemuan-penemuan ilmiah ini."
Stannard percaya bahwa kebetulan kosmik bukanlah kebetulan: "Tuhan sengaja membuatnya seperti itu," katanya. "Dia mendesain alam semesta khusus untuk penciptaan kehidupan, untuk membuat mahluk yang dapat mengenalNya."

Tetapi yang lain sama-sama yakin bahwa desain besar apapun tidak ada hubungannya dengan keberadaan Tuhan, dan bahwa kebetulan adalah kebetulan. Mereka juga mengatakan bahwa apabila kondisi tidak tepat untuk kehidupan, kita tidak akan ada untuk mengetahuinya. Hawking pernah mengatakan bahwa hukum fisika quantum mungkin dapat memperlihatkan bahwa Tuhan berlebihan, karena seluruh alam semesta dapat terjadi dengan sendirinya.

Beberapa, termasuk Profesor Andrei Linde dari Universitas Stanford, bahkan percaya bahwa teori quantum dapat mengijinkan mereka untuk berperan sebagai Tuhan itu sendiri, menciptakan alam-alam baru dalam laboratorium -- sedikitnya dalam teori.

Linde mengatakan bahwa cara untuk seperti Tuhan adalah menekan materi sekecil mungkin sehingga memulai apa yang dinamakan medan skalar, sumber dari energi quantum yang dianggap memulai big-bang 15 milyar tahun yang lalu.

Perkiraan Linde adalah menekan hanya sepersepuluh juta gram dari materi dapat memulai untuk memunculkan medan skalar dalam laboratorium.

Susahnya, materi itu harus ditekan sepermiliar kali dari besarnya partikel sub-atomik yang terkecil. "Kita tidak tahu apakah hal ini mungkin sama sekali," katanya, meskipun, mungkin kita dapat melakukannya dalam partikel akselerator.

Jika akhirnya ini mungkin, simulasi komputer memprediksi bahwa titik materi itu akan hilang, digantikan oleh lubang kecil dalam ruang- waktu -- sebuah worm-hole quantum -- sebesar partikel sub-atomik. Dan di ujung yang lain adalah alam semesta buatan manusia yang baru.

Linde memperkirakan kita tidak akan dapat memasuki alam semesta ini untuk melihat apa yang sudah diciptakan: "pintu" nya akan terlalu kecil. Tetapi akan mungkin untuk mendesain alam sehingga kondisi di dalamnya akan sesuai untuk munculnya kehidupan. Kemudian mungkin kehidupan itu sendiri akan berkembang, dan mulai bertanya dari mana dia datang. Kedengarannya dikenal? Persamaannya dengan pertanyaan bagaimana kita ada disini sangat jelas.

Lelucon yang tidak terlalu lucu Mungkinkah kita, hanyalah yang terakhir dari mahluk-mahluk yang menghuni alam yang dibuat oleh generasi sebelumnya yang telah mengetahui bagaimana membuat alam semesta? Linde tidak menolak kemungkinan ini.
"Saya pertama kali memberikan ide ini sebagai lelucon," katanya.
"Tetapi mungkin saja tidak."

Banyak orang menemukan bahwa ide dari ilmuwan bermain-main Tuhan seperti ini sangat menguatirkan. Pope telah memberikan peringatan bahwa riset ke dalam kelahiran alam semesta sudah terlalu jauh.

Tetapi untuk semua kekuatiran Pope, kelihatannya Manusia dengan Jas Putih tidak dalam keadaan untuk membuktikan bahwa Tuhan tidak ada. Tetapi, mereka akan melakukan sesuatu yang lebih menakutkan: Menjadi Tuhan itu sendiri.

Baca Juga: Membuktkan bahwa Allah itu benar benar ada

(*) Artikel ini adalah terjemahan dari _majalah_ sains populer Fokus, edisi Maret 1999.

>
Back To Top