-->
Motivasi Menulis

Semua Karena "CINTA"

Filsafat-Logika.com
Filsafat, Logika &  Kepercayaan. Seorang ibu muda berlari kencang mengejar bis yang berjalan merambat di depan halte di daerah Kebon Nanas, Tangerang, Banten. Saat berlari, ia tidak sendiri. Ia menggendong anaknya yang masih berusia satu tahun. Pundak kecilnya juga masih harus dibebani dengan sekotak alat musik karaoke. Dua beban yang tak menyurutkan laju kencangnya mengejar bis kota , sayangnya bis besar itu hanya menyisakan kepulan asap hitam di wajah wanita pengamen itu.

Si kecil yang digendongnya, hanya bisa menutup mata untuk menghindari kepulan asap yang memerihkan mata. Ia, sungguh takkan pernah mengerti sebab apa dibawa berlari mengejar satu bis ke bis lainnya. Ia, juga takkan pernah memahami, setiap kali ibunya bernyanyi di depan puluhan pasang mata di dalam bis kota . Yang ia tahu hanyalah, terik matahari, atau derasnya hujan, debu jalanan, asap knalpot, aroma bis kota , tatapan iba, dan juga makian penumpang yang terganggu oleh hingar musik ibunya. Semua itu menjadi sahabat sehari-hari si kecil.

Lain lagi dengan pemandangan di Pasar pagi Cikokol, Tangerang, Banten. Pukul 02.00 dini hari, seorang anak berusia tidak lebih tiga tahun terlelap di tengah pasar. Berselimut angin malam, berteman aroma pasar, si kecil tertidur ditemani hiruk pikuk para aktor pasar; penjual dan pembeli. Sesekali mimpinya tergugah oleh klakson mobil, matanya terbuka melihat sekejap sang ibu yang sibuk melayani pembeli. Kemudian terlelap kembali merajut mimpi indahnya.

Anak pasar itu -kalau boleh disebut begitu- tak pernah tahu sebab apa ibunya menyertakannya dalam aktivitas di pasar dini hari itu. Ia tak pernah benar-benar mengerti kenapa dirinya berada di tengah- tengah tumpukan cabai, bawang, tomat dan sayuran setiap pagi dan melihat transaksi jual beli yang dilakukan ibunya. Saat terbangun dan menemani ibunya, cabai, bawang, tomat itulah sahabatnya. Angin pagi yang menusuk menjadi selimutnya, dan aroma tak sedap pasar becek lah yang kerap mengakrabinya.

Di tempat yang berbeda. Seorang ibu di Bogor naik turun KRL (kereta api listrik) menggendong anaknya yang cacat mental dan fisik, padahal si anak sudah berusia belasan tahun. Anak yang takkan pernah mengerti itu, benar-benar tidak tahu, sebab apa ibunya rela menanggung malu mengemis belas kasih dari penumpang kereta. Si anak juga tak pernah bertanya, “beratkah ibu menggendong saya?”

Masih di kereta yang sama, seorang ibu lainnya menggendong anaknya yang berusia tiga tahun. Si kecil yang lucu dan ramah itu, hanya memiliki sebelah tangan. Ia tak dianugerahi tangan kiri dan dua kaki saat terlahir ke dunia ini. Anak itu, tak pernah memahami kenapa di setiap menit selalu ada tetes air mata di sudut mata ibunya. Si kecil selalu tersenyum, meski air muka ibunya tak pernah menyiratkan bahagia. Senyum sang ibu kerap dipaksakan di depan para penumpang kereta, demi sekeping receh yang diharapnya.

***

Anak-anak itu, memang belum akan mengerti sebab apa ibunya mengejar bis kota , mengakrabi malam di pasar, dan menyusuri gerbong demi gerbong kereta api. Yang mereka tahu hanyalah, mereka tak pernah jauh dari ibunya. Yang mereka rasakan adalah kecupan di kening dan wajah setiap kali sang ibu berkesah tak mendapatkan rezeki. Bahasa kalbu ibu berkata, “sebab cinta, ibu melakukan semua ini nak”. Sungguh, jika tak karena cinta, langkahnya sudah terhenti. Cintalah yang mengajarkannya untuk menghapus kata “lelah” dan “putus asa” dalam kamus hidup seorang ibu.

Negara atau Agama, Kamu Pilih Mana ?



Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatu.
Negara dan Agama,
Kedua kata ini memiliki makna yang berbeda, tetapi memiliki keterkaitan yang sangat erat, kita tidak bisa beragama tanpa negara sebagai pelindung, dan kita juga tidak bisa membangun negara tanpa ada agama di dalamnya. Tapi sayangnya di negara kita tercinta, ada beberapa oknum politikus busuk yang sengaja ingin memisahkan antara negara dan agama. Mereka sengaja mengkotak kotakkan dan membuat jurang pemisah yang cukup dalam antara orang yang cinta Negara dan Cinta dengan Agama.


            Maka apa yang terjadi ???
Tentulah saling hujat menghujat, saling tuduh menuduh antar sesama anak bangsa. Yang teriak pancasila harga mati di tuduh kafir dan tidak menegakkan ajaran agama  sementara yang teriak Allahu Akbar di tuduh tidak cinta pancasila dan ingin mengganti ideologi bangsa.  Hal ini semakin parah dengan adanya dua kubu calon presiden yang masing2 mewakili pancasia dan Takbir, seakan akan dua kalimat ini tidak bisa di satukan. Apakah yang teriak takbir pasti anti pancasila ? ataukah apakah yang cinta pancasila adalah dia yang anti terhadap agama ?
Lebih parahnya lagi, bencana yang menimpa saudara kita di NTB, Palu dan Banten tidak luput dari gorengan gorengan politisi busuk, yang satu mengatakan bencana terjadi karena pmerintah yg dzolim, yang satu mengatakan bencana terjadi karena di daerah tersebut oposisi  yang menang pemilu. Apakah mereka lupa dengan Firman Allah


Mereka mengetahui nikmat-nikmat Alloh, (tetapi) kemudian mereka meningkarinya dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang kafir,” (QS. An Nahl: 83)
Dosa akibat kufur ini bisa mengakibatkan Allah menurunkan kelaparan dan ketakutan pada sebuah negeri:
Dan Allah Telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; Karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat,” (QS. An-Nahl: 112)
 “Dan tidak pernah (pula) Kami membinasakan kota-kota; kecuali penduduknya dalam keadaan melakukan kezaliman,” (QS. Al Qhashash: 59)
Demikian pula sebuah negeri yang penduduknya banyak berbuat zalim, maka Allah akan menimpakan azab yang pedih dan keras, entah berupa bencana alam ataupun bentuk azab lainnya.
Yah, mungkin saja bencana ini terjadi sebagai teguran dari Allah kepada kita untuk berhenti saling mencela, berhenti saling memfitnah dan salin mencacikarena itu semua merupakan kedzaliman yang notabene merupakan sebab diturunkannya adzab. Marilah kita sama sama bahu membahu, saling merangkul dalam membangun negeri. Bukankah Indonesia adalah negeri yang besar ? Indonesia tidak butuh orang yang hanya cinta Pancasila atau yang hanya cinta agama tapi lebih dari itu, Indonesia butuh pemimpin yang bisa menjaga Pancasila sebagai dasar negara dan juga menegakkan ajaran agama di bumi Nusantara, karena Negara dan Agama tidak mungkin di Pisahkan.


Back To Top