Benarkah Islam Menyembah Batu ??
FL&K. Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh….
Pada kesempatan kali ini saya akan mencoba sedikit membahas tentang hajar aswad. Hajar 'Aswad (Arab: حجر أسود) merupakan sebuah batu yang diyakini oleh umat Islam berasal dari surga, dan yang pertama kali menemukannya adalah Nabi Ismail dan yang meletakkannya adalah Nabi Ibrahim. Menurut riwayat, batu tersebut awalnya berwarna putih bersih, namun perlahan lahan menjadi hitam akibat dosa dosa dari bani Adam.
Baca Juga: IslamAgama Teroris ?? Ini Jawabannya !
Kemudian muncul suatu fitnah dari kalangan misionaris atau para pembenci islam, isu yang diangkat bahwa umat muslim itu menyembah batu hitam hajar aswad, dan yang lebih heboh lagi, ada beberapa yang mengatakan kalau batu hitam itu adalah Allah… hahahahah
Mungkin mereka tidak tau bahwa Kiblat pertama umat Muslim itu adalah Masjid Al-Aqsa yang terletak di Yerussalem selama kurang lebih 17 bulan, sebelum turun wahyu Allah untuk merubah kiblat kea rah Kabbah,,, ini sudah merupakan suatu bukti bahwa Muslim sama sekali tidak menyembah batu.
Lebih lanjut lagi, mungkin mereka tidak tau bahwa Hajar Aswad pernah dicuri selama puluhan tahun oleh orang2 yang tdk bertanggung jawab. Apakah Muslim berhenti sholat ?? Apakah Muslim merubah arah sholat ?? TIDAK….. Bahkan muslim masih bisa shalat dengan santai dan juga tidak merubah arah kiblat !!! Apakah ini bukan bukti kuat bahwa Islam tidak menyembah Batu hitam ??
Baca Juga: Apakah Tuhan Benar Benar Ada ?
Lalu muncul kembali pertanyaan. Mengapa Umat Muslim mencium batu tersebut ??
Ini tidak lain dan tidak bukan karena Nabi Muhammad SAW Mencium batu tersebut. Dan dalam Islam sendiri tidak ada kewajiban untuk mencium Batu Hajar Aswad.
عَنْ عَابِسِ بْنِ رَبِيعَةَ قَالَ رَأَيْتُ عُمَرَ يُقَبِّلُ الْحَجَرَ وَيَقُولُ إِنِّى لأُقَبِّلُكَ وَأَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ وَلَوْلاَ أَنِّى رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُقَبِّلُكَ لَمْ أُقَبِّلْكَ
“Dari ‘Abis bin Robi’ah, ia berkata, “Aku pernah melihat ‘Umar (bin Al Khottob) mencium hajar Aswad. Lantas ‘Umar berkata, “Sesungguhnya aku menciummu dan aku tahu bahwa engkau hanyalah batu. Seandainya aku tidak melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menciummu, maka tentu aku tidak akan menciummu” (HR. Bukhari no. 1597, 1605 dan Muslim no. 1270).
Dalam lafazh lain disebutkan,
إِنِّى لأُقَبِّلُكَ وَإِنِّى أَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ وَأَنَّكَ لاَ تَضُرُّ وَلاَ تَنْفَعُ وَلَوْلاَ أَنِّى رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَبَّلَكَ مَا قَبَّلْتُكَ
“Sesungguhnya aku menciummu dan aku tahu bahwa engkau adalah batu yang tidak bisa memberikan mudhorot (bahaya), tidak bisa pula mendatangkan manfaat. Seandainya bukan karena aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menciummu, maka aku tidak akan menciummu.” (HR. Muslim no. 1270).
Baca Juga: Satu Sisi Keagungan Israj Miraj.


