-->
Motivasi Menulis

Pengertian dan Makna dari "Agama"

Filsafat, Logika dan Kepercayaan. Pengertian Agama menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Mahakuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya. Sedangkan menurut Islam Agama itu dapat diartikan sebagai “Din”..


Apa itu din?
Dinberasal dari bahasa Arab. Menurut arti bahasa(etimologi), din diartikan sebagai balasan dan ketaatan.Sedangkan menurut terminologi Teologi, din diartikan sebagai sekumpulan keyakinan, hukum dan norma yang akan mengantarkan seseorang kepada kebahagiaan manusia, Berdasarkan hal di atas, din mencakup tiga dimensi, (1) keyakinan (aqidah), (2) hukum (syariat) dan (3) norma (akhlak). Ketiga dimensi tersebut dikemas sedemikian rupa sehingga satu sama lain saling berkaitan dan tidak bisa dipisahkan antara satu dengan lainnyaBerdasarkan hal di atas, din mencakup tiga dimensi, (1) keyakinan (aqidah), (2) hukum (syariat) dan (3) norma (akhlak). Ketiga dimensi tersebut dikemas sedemikian rupa sehingga satu sama lain saling berkaitan dan tidak bisa dipisahkan antara satu dengan lainny baik di duinia maupun di akhirat.

Baca Juga; Sejarah Penyusunan Al-Qur'an

Mengapa kita beragama ?  
Manusia adalah satu spesies makhluk yang unik dan istimewa dibanding makhluk-makhluk lainnya, termasuk malaikat, karena manusia dicipta dari unsur yang berbeda, yaitu unsur hewani / materi dan unsur ruhani / immateri. Memang, dari unsur hewani manusia tidak lebih dari binatang, bahkan lebih lemah darinya. Bukankah banyak diantara binatang yang lebih kuat secara fisik dari manusia ? Bukankah ada binatang yang memiliki ketajaman mata yang melebihi mata manusia ? Bukankah ada pula binatang yang penciumannya lebih peka dan lebih tajam dari penciuman manusia ? Dan sejumlah kelebihan-kelebihan lainnya yang dimiliki selain manusia. 
Karena itu, sangatlah tidak pantas bagi manusia berbangga dengan penampilan fisiknya, disamping itu penampilan fisik adalah wahbi sifatnya (semata-mata pemberian dari Allah, bukan hasil usahanya).
Kelebihan manusia terletak pada unsur ruhani (mencakup hati dan akal, keduanya bukan materi). Dengan akalnya, manusia yang lemah secara fisik dapat menguasai dunia dan mengatur segala yang ada di atasnya. Karena unsur inilah Allah menciptakan segala yang ada di langit dan di bumi untuk manusia (Lihat surat Luqman ayat 20). Dalam salah satu ayat Al-Qur’an ditegaskan, “Sungguh telah kami muliakan anak-anak Adam, kami berikan kekuasaan kepada mereka di darat dan di laut, serta kami anugerahi mereka rizki. Dan sungguh kami utamakan mereka di atas kebanyakan makhluk Kami lainnya.” (QS. Al-Isra 70). 
Unsur akal pada manusia, awalnya masih berupa potensi (bil-quwwah) yang perlu difaktualkan (bil-fi’li) dan ditampakkan. Oleh karena itu, jika sebagian manusia lebih utama dari sebagian lainnya, maka hal itu semata-mata karena hasil usahanya sendiri, karena itu dia berhak berbangga atas lainnya. Sebagian mereka ada pula yang tidak berusaha memfaktualkan dan menampakkan potensinya itu, atau memfaktualkannya hanya untuk memuaskan tuntutan hewaninya, maka orang itu sama dengan binatang, bahkan lebih hina dari binatang (QS. Al-A’raf 170 dan Al-Furqan 42). 
Termasuk ke dalam unsur ruhani adalah fitrah. Manusia memiliki fitrah yang merupakan modal terbesar manusia untuk maju dan sempurna. Din adalah bagian dari fitrah manusia.

Dalam kitab Fitrat (edisi bahasa Parsi), Syahid Muthahhari menyebutkan adanya lima macam fitrah (kecenderungan) dalam diri manusia, yaitu mencari kebenaran (haqiqat), condong kepada kebaikan, condong kepada keindahan, berkarya (kreasi) dan cinta (isyq) atau menyembah (beragama). Sedangkan menurut Syeikh Ja’far Subhani,terdapat empat macam kecenderungan pada manusia,dengan tanpa memasukan kecenderungan berkarya seperti pendapat Syahid Muthahhari (kitab al-Ilahiyyat, juz 1).
Kecenderungan beragama merupakan bagian dari fitrah manusia. Manusia diciptakan oleh allah dalam bentuk cenderung beragama,dalam arti manusia mencintai kesempurnaan yang mutlak dan hakiki serta ingin menyembah pemilik kesempurnaan tersebut. Syeikh Taqi Mishbah Yazdi, dalam kitab Ma’arif Al-Qur’an juz 1 hal. 37, menyebutkan adanya dua ciri fitrah, baik fitrah beragama maupun lainnya, yang terdapat pada manusia, yaitu pertama kecenderungan-kecenderungan (fitrah) tersebut diperoleh tanpa usaha atau ada dengan sendirinya, dan kedua fitrah tersebut ada pada semua manusia walaupun keberadaannya pada setiap orang berbeda, ada yang kuat dan ada pula yang lemah. Dengan demikian, manusia tidak harus dipaksa beragama, namun cukup kembali pada dirinya untuk menyambut suara dan panggilan hatinya, bahwa ada sesuatu yang menciptakan dirinya dan alam sekitarnya.
Meskipun kecenderungan beragama adalah suatu yang fitri, namun untuk menentukan siapa atau apa yang pantas dicintai dan disembah bukan merupakan bagian dari fitrah, melainkan tugas akal yang dapat menentukannya. Jadi jawaban dari pertanyaan mengapa manusia harus beragama, adalah bahwa beragama merupakan fitrah manusia. Allah Ta’ala berfirman, “Maka hadapkanlah wajahmu kepada din dengan lurus, sebagai fitrah Allah yang atasnya manusia diciptakan.” (QS. Rum 30).

Baca Juga; Nubuat kedatangan Muhammad dalam alkitab

Bagaimana Seharusnya Kita Beragama ?
Secara teoritis agama adalah pegangan hidup (way of life) yang lengkap dan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia, baik secara individu maupun kemasyarakatan. Islam agama yang sangat luas dan fleksibel. Secara praktek hal ini telah dibuktikan, bahwa dalam sebuah pemerintahan yang menjalankan syariat Islam dengan baik, kehidupan masyarakatnya baik muslim atau non muslim aman, damai dan sejahtera, bahkan perkembangan ilmu pengetahuan di dalamnya maju pesat.
Kalimat tauhid yang berbunyi la ilaha illa allah (tidak ada tuhan selain tuhan) merupakan esesnsi dari semua ajaran islam. Dapat juga dikatakan, tauhid merupakan fondasi ajaran islam.secara etimologi, tauhid berarti mengesakan,yaitu mengesakan allah, dengan mengatakan “ tidak ada tuhan selain allah”, seorang manusia tauhid memutlakan allah yang maha esa sebagai khaliq mahapencipta, dan menisbikan selain-Nya sebagai makhluk atau ciptan-Nya. Karena itu, hubungan manusia dengan allah tak setara dibandingkan hubungannya dengan sesama makhluk. Tauhid berarti komitmen manusia kepada allah sebagai focus dari seluruh rasa hormat, rasa syukur, dan sebagai satu-satunya sumber nilai bagi manusia-tauhid, dan ia tidak akan mau menerima otoritasdsan petunjuk, kecuali otoritas dan petunjuk allah. Komitmennya kepada tuhan adalah utuh, total, positif dan kukuh, mencakup cinta dan pengabdian, ketaatan dan kepasrahan, serta kemauan keras untuk menjalankan kehendak-kehendaknya.
Yang menjadi acuan kita, adalah bagaimana seharusnya kita beragama, agar ajarannya benar-benar terasa dan mewarnai seluruh aspek kehidupan kita. 
Sebagaimana telah kita bahas sebelumnya, bahwa ajaran-ajaran Din terdiri atas tiga macam, yaitu aqidah (keyakinan), syariah(hukum atau fiqih) dan akhlaq. Klik untuk membaca...

Pengertian dan Makna Aqidah

Filsafat, Logika dan Kepercayaan. Aqidah adalah perkara-perkara yang mengikat akal, pikiran dan jiwa seseorang (Mabani-e Syenakht, Syeikh Muhammad Raysyahri). Misalnya, ketika seseorang meyakini adanya satu Dzat yang senantiasa mengawasi gerak-gerik kita, maka keyakinan tersebut mengikat kita sehingga kita tidak leluasa berbuat sesuatu yang akan menyebabkan-Nya murka.

Pada dasarnya, inti dari aqidah semua agama, adalah keyakinan akan eksistensi Dzat Pencipta alam raya ini dan ini merupakan fitrah manusia. Dengan demikian, dari sisi ini semua agama sama, khususnya agama samawi. Allah Ta’ala berfirman, “Katakanlah wahai ahli kitab, marilah kita menuju (membicarakan) kalimat (keyakinan) yang sama antara kami dan kalian.” (QS. Ali Imran : 64).

Namun perbedaan muncul ketika berbicara tentang siapa pencipta alam raya ini, bagaimana wujud-Nya, apakah tunggal atau berbilang, atau pertanyaan-pertanyaan lain yang berkaitan dengan ketuhanan.

Tentu, tidak mungkin semua agama itu benar dalam memahami Dzat Pencipta. Oleh karenanya, hanya ada satu agama yang benar dalam memahami siapa dan bagaimana Dzat Pencipta itu.
Lalu bagaimana cara menentukan mana agama yang benar ?
Dalam hal ini, masing-masing agama tidak bisa membicarakan hal itu menurut kaca matanya sendiri, baik melalui kitab sucinya atau pendapat para pakarnya. Umat Islam tidak bisa membuktikan bahwa Tuhan itu Allah dengan Al-Qur’an maupun Hadis, atau umat Kristiani dengan kitab Injilnya. Demikian pula umat lainnya.Berbicara tentang siapa dan bagaimana Tuhan Pencipta, harus dengan sesuatu yang disepakati dan dimiliki oleh setiap agama, yaitu akal. Keunggulan dan keberhasilan suatu agama atau aliran, tergantung sejauh mana dapat dipertahankan kebenarannya oleh akal. Maka di sinilah perlunya kita mempelajari aqidah melalui pendekatan akal, atau yang sering disebut dengan ushuluddin, ilmu tauhid dan ilmu kalam (theologi).

Bagaimana kita beraqidah atau bagaimana cara kita mempelajari aqidah ?

Ayatullah Muhammad Ray Syahri dalam kitab Mabani-e Syenakht membagi manusia yang beraqidah kepada dua kelompok, yaitu sebagian orang beraqidah atas dasar taqlid dan lainnya beraqidah atas dasar tahqiq. Taqlid ialah menerima pendapat orang tanpa dalil dan argumentasi (burhan) aqli, sebaliknya tahqiq adalah menerima pendapat berdasarkan dalil dan argumentasi (burhan) aqli.

Beraqidah atas dasar taqlid, menurut akal tidak dapat dibenarkan. Karena masalah aqidah adalah masalah keyakinan dan kemantapan, sementara taqlid tidak memberikan keyakinan dan kemantapan. Oleh karenanya, alangkah banyak kalangan awam, dalam masalah keagamaan, karena satu dan lain hal, pindah agama atau keluar dari agamanya. Al-Qur’an sendiri, dalam beberapa ayatnya, mengkritik cara berpikir seperti ini, yang merupakan cara berpikir yang biasa dijadikan alasan oleh orang-orang musyrik untuk tidak mengikuti ajakan para Nabi. Misalnya, Al-Qur’an mengatakan, “Jika dikatakan kepada mereka, Ikutilah apa yang Allah turunkan. Mereka menjawab, Tidak. Akan tetapi kami mengikuti (melakukan) apa yang kami dapati dari pendahulu kami.” (QS. Luqman : 21).

Baca juga; Pengertian dan makna Syariah

Selain itu, Al-Qur’an juga melarang mengikuti sesuatu tanpa pengetahuan, “Dan janganlah kalian mengikuti apa yang tidak kalian ketahui.” (QS. Al-Isra : 36). Bahkan Al-Qur’an menyebut orang yang tidak menggunakan akalnya sebagai binatang yang paling buruk, “Sesungguhnya binatang yang paling buruk di sisi Allah adalah orang yang bisu dan tuli, yaitu orang-orang yang tidak berpikir.” (QS. Al-Anfal : 22) dan ayat-ayat lainnya.

Disamping itu, terdapat sejumlah Hadis Rasulullah saaw yang menganjurkan umatnya agar beragama atas dasar pengetahuan. Antara lain Hadis yang berbunyi, “Jadilah kalian orang yang berilmu atau yang sedang menuntut ilmu, dan jangan menjadi orang yang ikut-ikutan.”(Kitab an-Nihayah Ibnu Atsir, jilid I hal. 67)

 akal diciptakan sebagai sumber kekuatan manusia untuk mengetahui kebenaran dan kesalahan. Salah seorang Ma’shumin berkata, “Allah mempunyai dua hujjah (bukti kebenaran), hujjah lahiriah dan hujah batiniah. Hujah lahiriah adalah para Rasul dan hujjah batiniah adalah akal.” Sementara itu, para Mutakalimin dan filosof muslim telah bersusah payah membangun argumentasi-argumentasi rasional yang kuat dan kokoh tentang pembuktian keberadaan Allah Ta’ala.

Dengan demikian, kesimpulan yang dapat kita tarik dari keterangan di atas, adalah bahwa dalam masalah aqidah seseorang mesti bertahqiq dengan dalil-dalil akal, dan tidak boleh ber-taqlid.

Pengertian dan Makna Syariat



www.filsafat-logika.com
Gambar Ilustrasi
Filsafat, Logika dan Kepercayaan. Syariat menurut arti bahasa adalah tempat mengalirnya air. Lalu syariat diartikan lebih luas, yaitu untuk segala jalan yang mengantarkan manusia kepada maksudnya (lihat Tafsir Namuneh dan Tafsir Mizan dalam menafsirkan surat Al-Jatsiyah ayat 18).
Dengan demikian, Syariat Islamiyah berarti jalan yang mengantarkan umat manusia kepada tujuan Islami.
Baca Juga; Pengertian dan makna Agama
Setelah seseorang meyakini keberadaan Allah sebagai Pencipta dan Pemberi kehidupan sesuai dengan dalil-dalil akal, maka konsekuensi logisnya (bil mulazamah aqliyyah) dia akan merasa berkewajiban untuk menaati dan menyembah-Nya. Namun sebelumnya, tentu dia harus mengetahui cara bertaat dan menyembah kepada-Nya, agar tidak seperti orang-orang Arab Jahiliyah yang menyembah Allah, namun melalui patung-patung (QS. Az-Zumar : 3).
Mereka, sesuai dengan fitrah illahiah, meyakini keberadaan Tuhan Sang Pencipta alam raya. Berkenaan dengan itu, Allah Ta’ala berfirman, “Jika kamu bertanya kepada mereka, Siapakah yang menciptakan bumi dan langit ? Niscaya mereka menjawab, Allah.” (QS. Lukman : 25).  Kemudian, mereka ingin mengadakan hubungan dan berkomunikasi dengan-Nya (menyembah-Nya), sebagaimana Allah lukiskan dalam firman-Nya, “Sebenarnya kami menyembah patung-patung sebagai upaya mendekatkan diri kami kepada Allah semata.” (QS. Az-Zumar : 3). Meskipun mereka meyakini keberadaan Allah Ta’ala, namun mereka salah dalam cara mengadakan hubungan dan berkomunikasi dengan-Nya.
Nah, agar tidak terjadi kesalahan dalam kontak dan komunikasi dengan Allah, maka kita mesti melakukannya menurut cara yang dihendaki-Nya dan tidak mengikuti cara yang kita inginkan. Allah dengan luthf-Nya (upaya mendekatkan hamba pada ketaatan dan menjauhkannya dari kemaksiatan) mengutus para Nabi dan menurunkan kitab untuk mengajarkan tata cara menyembah (beribadah). Oleh karena itu, kita mesti mengikuti bagaimana Rasulullah saaw beribadah, ‘’Shalatlah kalian, sebagaimana kalian melihat aku shalat.’’
Kaum muslimin yang menyaksikan Rasulullah beribadah secara langsung, tidak mengalami kesulitan untuk mengikuti beliau. Namun, bagi kita yang telah dipisahkan dari beliau dengan rentang waktu yang cukup panjang (lima belas abad), untuk mengetahui cara beliau beribadah hanyalah dapat dilakukan melalui perantaraan Al-Qur’an dan Hadis. Dan untuk memahami maksud Al-Qur’an dan Hadis tidaklah mudah. 
Baca juga; Pengertian dan makna aqidah
Menyangkut Al-Qur’an, Imam Ali bin Abi Thalib as. berkata, “Kitab Tuhan kalian (berada) di tengah-tengah kalian. Ia menjelaskan tentang halal dan haram, kewajiban dan keutamaan, nasikh (ayat yang menghapus) dan mansukh (ayat yang dihapus), rukhshah dan azimah, khusus dan umum, ibrah dan perumpamaan, mursal (mutlaq) dan mahdud (muqayyad), muhkam (ayat yang jelas maksudnya)…” (Tashnif Nahjul Balaghah : 207). Sedangkan mengenai Hadis yang sampai kepada kita, ribuan jumlahnya dari berbagai kitab Hadis dan tidak sedikit darinya terdapat pertentangan satu dengan lainnya. 
Dengan demikian, untuk dapat memahami maksud Al-Qur’an dan Hadis, harus terlebih dahulu menguasai sejumlah disiplin ilmu dengan baik, antara lain Bahasa Arab, Tafsir, Ulumul Qur’an, Ushul Fiqih, Mantiq, Ilmu Rijal, Ulumul Hadis dan sebagainya.
Orang yang telah menguasai semua disiplin ilmu tersebut dengan baik, dia dapat ber-istinbath (meng-interpretasi-kan hukum) secara langsung dari Al-Qur’an dan Hadis (pelakunya disebut mujtahid). Tetapi orang yang tidak menguasai semua ilmu di atas dengan baik, maka cukup baginya mengikuti (bertaqlid) kepada hasil istinbath seorang mujtahid. Dalam masalah aqidah taqlid tidak diperkenankan, sementara dalam masalah syariat taqlid diperbolehkan. 
Baca juga; Pengertian dan makna Akhlak 

Pengertian dan Makna dari Akhlak

www.filsafat-logika.com
Filafat, Logika dan Kepercayaan. Kata “akhlak” berasal dari bahasa arab yaitu ” Al-Khulk ” yang berarti tabeat, perangai, tingkah laku, kebiasaan, kelakuan. Menurut istilahnya, akhlak ialah sifat yang tertanam di dalam diri seorang manusia yang bisa mengeluarkan sesuatu dengan senang dan mudah tanpa adanya suatu pemikiran dan paksaan. Dalam KBBI, akhlak berarti budi pekerti atau kelakuan. Sedangkan menurut para ahli, pengertian akhlak adalah sebagai berikut: Para ulama dalam mengartikan akhlak umumnya mengatakan, “Akhlak adalah ilmu yang menjelaskan tentang mana yang baik dan yang buruk, serta apa yang harus diamalkan.” Mereka membagi ilmu akhlak kepada dua bagian, yaitu akhlak teoritis dan akhlak praktis. Mempelajari dan mengamalkan akhlak sangat diperlukan, sebagai proses mencapai tujuan hidup, yaitu kesempurnaan.

Sebagai makhluk sosial manusia yang dalam kehidupan kesehariannya selalu berinteraksi dengan sesamanya sudah barang tentu membutuhkan sebuah tatacara atau cara berkomunikasi dengan baik supaya hubungan yang terjalin menjadi hubungan yang harmonis, tidak merugikan orang lain dan diri sendiri dan inilah tujuan dari keberadaan akhlaq.

Baca juga; Pengertian dan makna agama

Seperti sempat disinggung diatas, bahwa manusia merupakan makhluk terbaik ciptaan Allah SWT—terdapat dalam surah At-Tin, tentunya ia memiliki ciri khas tertentu yang kemudian akan membedakannya dengan makhluk lain yang Allah ciptakan. Manusia sangat khas dengan akal yang dimilikinya—sampai rosulullah pernah bersabda”sesungguhya seluruh kebaikan itu dapat dikenali dengan akal”, karena kemudian akal ini akan digunakan oleh manusia sebagai alat timbangan/ penimbang untuk melakukan sebuah perbuatan. Tujuan inti dari akhlak adalah untuk membentuk kehidupan yang harmonis antar sesama manusia.

Prinsip Dasar Akhlak Dalam Islam

Dalam ajaran Islam yang menjadi dasar-dasar akhlak adalah berupa al-Quran dan Sunnah Nabi Muhammad Saw. Baik dan buruk dalam akhlak Islam ukurannya adalah baik dan buruk menurut kedua sumber itu, bukan baik dan buruk menurut ukuran manusia. Sebab jika ukurannya adalah manusia, maka baik dan buruk itu bisa berbeda-beda. Seseorang mengatakan bahwa sesuatu itu baik, tetapi orang lain belum tentu menganggapnya baik. Begitu juga sebaliknya, seseorang menyebut sesuatu itu buruk, padahal yang lain bisa saja menyebutnya baik.
Semua ummat Islam sepakat pada kedua dasar pokok itu (al-Quran dan Sunnah) sebagai dalil naqli yang tinggal mentransfernya dari Allah Swt, dan Rasulullah Saw. Keduanya hingga sekarang masih terjaga keautentikannya, kecuali Sunnah Nabi yang memang dalam perkembangannya banyak ditemukan hadis-hadis yang tidak benar (dha’if/palsu).
Melalui kedua sumber inilah kita dapat memahami bahwa sifat sabar, tawakkal, syukur, pemaaf, dan pemurah termasuk sifat-sifat yang baik dan mulia. Sebaliknya, kita juga memahami bahwa sifat-sifat syirik, kufur, nifaq, ujub, takabur, dan hasad merupakan sifat-sifat tercela. Jika kedua sumber itu tidak menegaskan mengenai nilai dari sifat-sifat tersebut, akal manusia mungkin akan memberikan nilai yang berbeda-beda. Namun demikian, Islam tidak menafikan adanya standar lain selain al-Quran dan Sunnah untuk menentukan baik dan buruknya akhlak manusia.
Selain itu standar lain yang dapat dijadikan untuk menentukan baik dan buruk adalah akal dan nurani manusia serta pandangan umum masyarakat.Islamadalah agama yang sangat mementingkan Akhlak dari pada masalah-masalah lain. Karena misi Nabi Muhammad diutus untuk menyempurnakan Akhlak. Manusia dengan hati nuraninya dapat juga menentukan ukuran baik dan buruk, sebab Allah memberikan potensi dasar kepada manusia berupa tauhid. Allah Swt. berfirman:
Artinya: “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”.” (QS. al-A’raf: 72).
Prinsip Akhlak dalam Islam terletak pada Moral Force. Moral Force Akhlak Islam adalah terletak pada iman sebagai Internal Power yang dimiliki oleh setiap orang mukmin yang berfungsi sebagai motor penggerak dan motivasi terbentuknya kehendak untuk merefleksikan dalam tata rasa, tata karsa, dan tata karya yang kongkret. Dalam hubungan ini Rosulullah Saw, bersabda:
“Orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah yang terbaik akhlaknya. Dan sebaik-baik diantara kamu ialah yang paling baik kepada istrinya”
Selain itu yang menjadi dasar pijakan Akhlak adalah Iman, Islam, dan Islam. Al-Qur’an menggambarkan bahwa setiap orang yang beriman itu niscaya memiliki akhlak yang mulia yang diandaikan seperti pohon iman yang indah hal ini dapat dilihat pada surat Ibrahim ayat 24, yang berbunyi:
Artinya:Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun. Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang lalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki”.

Baca juga; Pengertian dan makna Akidah
Dari ayat diatas dapat kita ambil contoh bahwa ciri khas orang yang beriman adalah indah perangainya dan santun tutur katanya, tegar dan teguh pendirian (tidak terombang ambing), mengayomi atau melindungi sesama, mengerjakan buah amal yang dapat dinikmati oleh lingkungan. Namun disisi lain, sebenarnya masih banyak teori-teori yang berbicara mengenai dasar-dasar akhlak dengan menafikan pemikiran Islam, seperti relativisme akhlak. Yang mana berkat pembuktian realisme, maka kemutlakan akhlak adalah pendapat yang sahih dan relativisme akhlak tidak dapat diterima. 
Ada sebuah ungkapan yang mengatakan bahwa, kita akan memanen apa yang kita tanam. Dari ungkapan tersebut dapat kita tarik benang merah, bahwasannya apa yang kita lakukan tidak ada hubungannya dengan sesuatu diluar diri kta, karena hubungan perbuatan kita berhubungan langsung dengan Tuhan. Tanpa ada pihak ke-3. Oleh karena itulah dasar Ahklak memerlukan Disipln Moral.
Kant, filosof Jerman berpendapat bahwa Rasio Spekulatif, yaitu agen didalam mekanisme tidak bernilai tinggi; namun rasio praktis, yaitu agen dari pelaksanaan hal-hal praktis, yang juga dimaknai sebagai “kesadaran akhlak” memiliki kegunaan yang pasti dan printah-printahnya bersifat mengikat. Dan hal ini sering di maknai sebagai “kesadaran akhlak”.

Ruang Lingkup Akhlak Islam

  1. Akhlak terhadap diri sendiri meliputi kewajiban terhadap dirinya disertai dengan larangan merusak, membinasakan dan menganiyaya diri baik secara jasmani (memotong dan merusak badan), maupun secara rohani (membirkan larut dalam kesedihan).
  2. Akhlak dalam keluarga meliputi segala sikap dan perilaku dalam keluarga, contohnya berbakti pada orang tua, menghormati orang tua dan tidak berkata-kata yang menyakitkan mereka.
  3. Akhlak dalam masyarakat meliputi sikap kita dalam menjalani kehidupan soaial, menolong sesama, menciptakan masyarakat yang adil yang berlandaskan Al-Qur’an dan hadist
  4. Akhlak dalam bernegara meliputi kepatuhan terhadap Ulil Amri selama tidak bermaksiat kepada agama, ikut serta dalam membangun Negara dalam bentuk lisan maupun fikiran.
  5. Akhlak terhadap agama meliputi berimn kepada Allah, tidak menyekutukan-Nya, beribadah kepada Allah. Taat kepada Rosul serta meniru segala tingkah lakunya.

    Baca Juga; Pengertian dan makna Syariah


>

Nubuat Kedatangan Nabi Muhammad didalam Al-Kitab

www.filsafat-logika.com
Filsafat, Logika & Kepercayaan. Pada kesempatan sebelumnya, kami telah membahas mengenai Nabi Muhammad di dalam kitab suci umat Hindu. Di kesempatan ini kami akan mencoba membahas mengenai nubuat/ramalan tentang kedatangan Nabi Muhammad SAW di dalam Al-Kitab.

Nabi Muhammad SAW dan kaum muslimin awal percaya bahwa hadirnya Muhammad sebagai nabi telah dikabarkan di dalam Bibel. Al-Qur'an menyatakan bahwa Muhammad adalah nabi dan rasul "yang namanya telah didapati tertulis di dalam Taurat dan Injil" (7: 157). Ada pula beberapa ayat yang menyebutkan orang-orang Yahudi disalahkan karena menyembunyikan kebenaran atau menyembunyikan bagian dari ajaran-ajaran atau tidak menyatakan dengan sebenamya. Ayat-ayat atau ajaran-ajaran yang disembunyikan itu pada awalnya mungkin dipahami sebagai menyembunyikan berita akan datangnya Muhammad sebagai seorang nabi dan rasul. Khalifah al Mahdi dalam sebutan Timothy menyebutkan, ada tiga ayat yang dengan tegas mengabarkan kenabian Muhammad. Satu ayat dalam Deuteronomy 18: 18 yang menyebutkan bahwa Allah menjanjikan kepada Bani Israel untuk mengirimkan seorang nabi seperti nabi Musa dari keturunan mereka. Ayat lain yang menyatakan "seorang penunggang unta dari Isaiah" (27: 7), yang dikatakan oleh para ahli pikir kontemporer bahwa ayat ini secara faktual menunjukkan jama' (plural); dan yang ketiga adalah janji Paraclet atau Sang Juru Selamat dalam kitab Perjanjian Baru.

Umat Kristen memahami perkabaran akan hadirnya Paraclet atau Sang Juru Selamat ini sebagai petunjuk kepada Ruh Kudus, seperti yang secara eksplisit dinyatakan dalam John (Yahya) 14: 26. Sungguhpun demikian, dalam beberapa hal ada kesamaan yang dicatat antara dua kata dari bahasa Yunani, periklutos, yang berarti "termasyhur" atau "patut dipuji" dan, parakletos atau paradete. Agaknya dua kata itulah yang menjadi landasan pernyataan bahwa apakah Yesus (Isa) benar benar telah mengatakan tentang Paraclet secara sungguh-sungguh yang ditujukan kepada nabi Muhammad SAW yang nama ini juga berarti "terpuji" atau "mulia."

Baca Juga; Pesan Imam ALI as kepada umat islam

Pada titik ini agaknya perlu kembali kepada Al-Qur'an untuk melihat ayat yang penting itu
Dan (ingatlah) ketika Isa putra Maryam berkata: Wahai Bani Israel, sesungguhnya aku adalah utusan (Rasul) Allah kepadamu, membenarkan kitab yang turun sebelummu, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)." Maka tatkala Rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: "Ini adalah sihir yang nyata" (61:6).

Sejak pertengahan abad ke delapan, kata --Ahmad-- diambil sebagai nama sebenarnya yang menjadi alternatif terhadap kata Muhammad. Kendatipun demikian, semenjak saat itu kata Ahmad yang dianggap sebagai kata sifat yang berarti "Yang Terpuji", memang kata itu masih merujuk kepada kata Muhammad. Yang penting bahwa kira-kira tahun 781 Masehi, Al-Mahdi memberi tahukan kepada Timothy agar tidak mengambil kata Ahmad sebagai sebuah nama yang sebenarnya. Saya telah menyebutkan perhatian itu di tempat lain terhadap fakta yang menghebohkan ini sampai kira-kira tahun 740 Masehi sehingga tidak ada nama orang Islam yang memakai nama Ahmad, akan tetapi setelah itu sebutan Ahmad menjadi amat umum sebagai nama panggilan alternatif terhadap kata Muhammad. Pernyataan ayat Al-Qur'an terebut menyatakan bahwa dalam lingkungan Muhammad ini ada kesadaran yang membingungkan antara periklutos dan parakletos; dan memang dalam tulisan bahasa Semit hanya menggunakan konsonan yang masing-masing identik benar -- prklts.

Menurut saya bahwa sampai abad ke delapan itu kata ahmad pada ayat tersebut diambil sebagai kata sifat, yang didukung oleh berbagai fakta yang lain. Jadi, dalam biografinya tentang Muhammad, Ibn Ishaq (meninggal tahun 768 Masehi), menyebutkan ayat ini dengan mengajukan pertanyaan, namun tidak menjelaskan nama ahmad sebagai nama panggilan nabi Muhammad. Tentang ayat ini dapat dikatakan bahwa Ibn Ishaq membuat terjemahan secara bebas yang akurat dalam John (Yahya: 15: 23, 16: 1), berbeda dengan pengubahan "Aku akan mengirim kamu dari Sang Bapa" dengan pernyataan "Allah akan mengirim kamu dari Tuhan." Terjemahan aktual dari Bibel ini sama sekali tidak biasa terjadi pada penulis-penulis muslim. Dalam pengenalan kutipan, Ibn Ishaq menyatakan "apakah dari murid John (Yahya) dituliskan bagi mereka pada saat dia menulis kitab Injil dari kesaksian ('ahd) Yesus putra Maria, mengenai Rasul Allah." Menurut Ibn Ishaq, kutipan ini merupakan klaimnya bahwa terma manhamanna yang digunakan untuk gubahan makna "paraklet" (orang yang terpuji) pada ayat tersebut, adalah sebuah kata dari bahasa Syria yang berarti Muhammad dan ini merupakan ekuivalen dengan kata baraqlitis. Jika mungkin di luar tempat ini dapat mendiskusikan percabangan-percabangan bahasa Syria dalam argumen ini. Titik tekan yang harus dicatat bahwa kaum muslimin benar-benar yakin kalau Muhammad ini sungguh telah diramalkan di dalam kitab Bibel.

Ibn Ishaq di tempat lain dan pada buku Thabaqat yang dikarang oleh Ibn Sa'ad (meninggal tahun 844 Masehi) ada berbagai kisah tentang jalan orang-orang Yahudi dan orang-orang Kristen yang menyembunyikan ayat-ayat yang mengabarkan tentang kehadiran Muhammad sebagai nabi. Kadangkala ada penyembunyian fisik dengan memotong halaman-halaman bersama sekaligus, atau dengan menghapus satu ayat atau mengganti satu ayat dengan ayat yang lain. Kisah-kisah itu seluruhnya rupanya mengacu kepada penduduk bangsa yang ummi (buta huruf) yang masih berfikir sederhana. Kisah-kisah yang menyatakan bahwa orang-orang Yahudi membayangkan seorang nabi ini kemungkinan berasal dari bayang-bayang seorang Messiah. Kisah yang paling terkenal adalah kisah pendeta Kristen, Bahira, yang waktu itu Muhammad sedang dalam perjalanan menuju Syria. Maka diketahui dari deskripsi buku-bukunya yang mengisyaratkan kenabian antara kedua bahu pundak beliau dan memberitahukan kepada paman beliau, Abu Thalib, agar berhati-hati menjaga Muhammad.

Baca Juga: Sejarah Penyusunan Al-Qur'an

Sejak abad ke delapan, sebagian ilmuwan muslim meneliti ayat-ayat Bibel lebih lanjut yang dapat diklaim meramalkan kehadiran Muhammad sebagai nabi atau rasul. Tak pelak lagi bahwa memang secara implisit menyatakan kekuatan teks Biblikal dan adanya kontradiksi bentuk-bentuk ajaran tersebut di mana seluruh teks itu tidak dapat dipercaya. Seorang ilmuwan yang kesohor, Ibn Qutaibah (meninggal tahun 889 Masehi), menemukan kira-kira sejumlah ayat, namun orang ini didahului oleh seorang yang masuk Islam dari beragama Kristen, Ali Ibn Rubban al Thabari (jangan dikacaukan dengan al-Thabari sebagai ulama ahli tafsir dan ahli sejarah, yang menghasilkan tafsirnya tidak kurang dari 130 ayat).

Umat Kristen dewasa ini yang berfikir bahwa pesan nabi yang paling mendasar adalah untuk zaman dan tempat beliau sendiri. Hal ini tentu dipahami secara berbeda dengan umat Kristen di zaman-zaman Perjanjian Baru yang melihat pada pesan-pesan yang meramalkan masa depan. Dewasa ini umat Kristen memperkenankan bahwa pesan-pesan kenabian ini kemungkinan dapat menunjukkan masa depan dengan dua cara. Cara yang pertama, seorang nabi yang dapat memberi perhatian kepada orang-orang sezamannya dengan bencana-bencana yang menimpa mereka sebagai hukuman terhadap tingkah laku atau perbuatan dosa yang telah mereka lakukan. Semua bencana yang ditimpakan kepada mereka ini dibayangkan untuk hari depan yang dekat. Cara yang kedua, pesan-pesan kenabian dapat berisi pernyataan-pernyataan umum tentang jalan-jalan dimana Tuhan berhadapan dengan makhluk yang bernama manusia, baik hukuman terhadap perbuatan dosa maupun memberi daya dorong agar tulus jujur dan membebaskan mereka dari kesengsaraan; dan tindakan-tindakan yang memberi dorongan yang diperlukan agar tidak segera terjadi.

Ayat dalam Deuteronomy 18: 14-19, dimana Musa mengatakan kepada Bani Israel bahwa Tuhan akan menurunkan kepada mereka seorang nabi seperti dirinya dari antara bapak-bapak mereka. Hal ini kiranya menyatakan prinsip umum, yakni ketika manusia yang beriman itu perlu petunjuk ketuhanan atau pertolongan Tuhan yang lain yang hendak mengirimkan seorang nabi kepada mereka. Prinsip ini dapat dikatakan telah terpenuhi pada keseluruhan rentetan nabi-nabi, yang memberi petunjuk kepada Bani Israel berabad-abad lamanya. Kemudian orang-orang Yahudi berfikir untuk mengaplikasikan pekabaran ini dengan hadirnya Sang Messiah, dan ini diberikan dalam artian umat Kristen awal dan ditujukan kepada Yesus (Acts 3: 22, dan seterusnya). Berdasarkan titik pandang ini, maka orang yang beragama Kristen dapat diakui bahwa mereka juga berlaku kepada Muhammad. Kendatipun demikian, pada waktu yang sama harus ditunjukkan bahwa dewasa ini umat Kristen tidak melihat terpenuhinya ramalan ini pada seseorang sebagai suatu bukti kenabiannya; baik dia ini benar-benar seorang nabi yang dikenal dari kualitas pesan-pesan yang disampaikannya maupun akibat pesan-pesan tersebut dalam kehidupan pemeluk-pemeluknya.
Bahkan harus dicatat bahwa cara berfikir modern tentang kenabian, ternyata tidak menetapkan penyimpangan dengan persamaan-persamaan aksidental antara lembaran-lembaran kenabian dan peristiwa-peristiwa yang terjadi terkemudian. Jadi ada sebuah ayat dalam Isaiah yang menyebutkan:
(Tanda kekuasaan) ini adalah: perempuan muda yang akan menerima dan melahirkan seorang anak lelaki, dan akan memberikan namanya dengan Immanuel. Mentega dan madu yang hendak mereka makan, agar dia tahu bagaimana orang ini menghilangkan kejahatan dan memilih yang baik. Karena sebelum beliau mengetahui bahwa dia mengetahui bagaimana menghilangkan kejahatan dan memilih yang baik. Karena sebelum dia mengetahui bagaimana menghilangkan kejahatan dan memilih yang baik, karena sebelum dia mengetahui bagaimana dapat ditinggalkannya kejahatan dan dipilih yang engkau benci itu akan ditinggalkan oleh kedua rajanya (Issaiah 7: 14).
Para ilmuwan modern juga memahami anak kalimat di atas secara berbeda satu dengan yang lain. Dalam versi Yunani kuno, satu kata pada ayat di atas mempunyai arti "perawan" atau "kesucian" walaupun dalam bahasa Yahudi berarti "gadis" atau perempuan muda yang belum kawin yang di satu saat nanti akan menuju jenjang perkawinan. Umat Kristen awal yang akrab dengan bahasa Yunani menyatakan bahwa ayat tersebut menunjukkan ramalan akan konsepsi keperawanan atau kesucian Yesus dan Immanuel dianggap sebagai salah satu namanya. Menurut pemahaman modern, ayat tersebut memberi tahukan kepada raja di waktu itu, Ahaz, bahwa malapetaka akan mengiringi musuh-musuhnya dalam waktu beberapa tahun mendatang. Nama Immanuel atau "Tuhan bersama kita", menekankan prinsip umum dan meyakinkan raja yang senantiasa berada pada jaminan pertolongan Tuhan terus-menerus. Akan tetapi ayat tersebut juga menguntungkan Yesus yang di satu saat diperuntukkan kepadanya. Jadi, tentang apllkasi Kristen modern kepada Yesus ini tidak memberikan sesuatu bukti apapun, dalam artian tidak lebih dari kejadian yang luar biasa; namun mempunyai tempat sejarah yang kuat dalam sejarah Kristen karena merupakan bagian dari cara berfikir umat Kristen awal terdahulu. Dalam memberi tahukan kejadian ini, secara implisit menyatakan bahwa kejadian luar biasa itu bukan merupakan bagian dari titah Tuhan, dikarenakan nabi-nabi mengucapkan kalimat-kalimat yang samar.samar yang artinya hanya akan jelas pada abad-abad terkemudian.
Namun begitu, umat Kristen yakin bahwa hasrat dan kematian Yesus telah diramalkan di dalam Perjanjian Lama. Akan tetapi ramalan ini jatuh kedalam kategori pernyataan umum tentang bagaimana Tuhan menghadapi manusia secara individual maupun komunitas. Satu dari pernyataan tersebut adalah penjelasan tentang penderitaan hamba Tuhan dalam Isaiah 52: 13, 53: 12. Walaupun hal ini nampak secara khusus dipergunakan kepada Yesus sebagai Messiah, namun ada pengertian dimana tiap-tiap orang mengatakan kedamaian dan keselamatan bekerja yang penting bagi Tuhan. Karena itu barangkali harus menghadapi penderitaan dari kematian. Agaknya jelas untuk orang luar bahwa umat Islam dewasa ini berusaha keras untuk mencapai dukungan bagi apa yang mereka anggap sebagai konsep Islam yang lebih benar ketimbang konsep-konsep kaum fundamentalis yang secara pasti hampir harus menghadapi penderitaan yang besar. 

Pandangan Kristen Terhadap Filsafat Yunani

www.filsafat-logika.com
Gambar Ilustrasi
Filsafat, Logika dan Kepercayaan. Beberapa waktu yang lalu, kami telah membahas mengenai Pandangan Islam terhadap Filsafat Yunani. Kali ini kita akan membahas Pandangan Kristen Terhadap Filsafat Yunani.

Tradisi filsafat Yunani yang hidup di Kekaisaran Byzantine memainkan peranan penting, sebagaimana yang telah dicatat terdahulu dalam rumusan ajaran Kristen di konsili-konsili ekumenikal. Kendatipun demikian, akibat dari invasi-invasi barbarian dan hancurnya kekaisaran Romawi barat, tinggal sedikit kultur intelektual saja yang masih tersisa di Eropa barat. Terjadi kebangkitan kembali kehidupan intelektual tertentu di Sevilla di bawah kaisar Isidore (meningal 636 Masehi), namun kehidupan intelektual yang sedikit ini makin menghilang setelah terjadinya invasi Arab. Bahkan abad ke sepuluh menampakkan isyarat kehidupan intelektual yang kecil di Eropa barat yang amat berbeda dengan komentar-komentar tentang sebagian kecil karya-karya logika Aristotle. Sekitar tahun 1100 Masehi, Anselm adalah orang yang menggunakan metode dialektika Aristotle untuk mempertahankan ajaran Kristen, dan dengan metode dialektika Aristotle ini dia diikuti oleh Peter Abelard dengan gaya yang lebih mantap.


Sungguhpun demikian, ada perubahan perlahan-lahan namun pasti terhadap yang terjadi, sebab setelah penaklukan Kristen di Toledo pada tahun 1085 Masehi, dan para ilmuwan Kristen dari berbagai negeri datang ke kota Toledo ini. Selama abad dua puluh ini ada sejumlah luas karya-karya filsafat yang diterjemahkan dari bahasa Arab ke bahasa Latin. Penterjemahan karya-karya filsafat ini membawa gelombang baru kegiatan intelektual di Eropa barat, yang mempengaruhi kemajuan ilmu pengetahuan dan filsafat, begitu pula pengaruhnya di bidang biologi. Satu garis pemikiran Ibnu Rushd yang telah diambil oleh Siger dari Brabant (hidup sekitar 1235-1282 Masehi) dan lain-lain, yang dalam bahasa Latin dikenal sebagai mazhab Averroist (aliran Ibn Rusydiisme). Ibnu Rushd mempermasalahkan apabila filsafat dan kitab-kitab suci yang diturunkan adalah benar, maka tidak boleh ada perbenturan antara falsafat dan wahyu. Lalu Ibnu Rushd terus berusaha keras untuk menunjukkan secara terinci bagaimana kontradiksi-kontradiksi yang jelas nyata itu dapat didamaikan satu dengan yang lain. Para Averroist Latin ini mengakui prinsip dasar, namun kecil perhatiannya untuk mendamaikan kontradiksi-kontradiksi yang terjadi, supaya teori mereka dikenal sebagai teori "kebenaran ganda" dan diberi hukum bid'ah.

Pengaruh Ibn Rushd yang utama ini nampak pada Dominicus Albertus Magnus (1206-1280 Masehi) dan Thomas Aquinas (1226-1274 Masehi). Kedua filsuf ini secara luas mengakui Aristotelianisme sebagai dijelaskan secara rinci oleh Ibn Rushd, dan kemudian secara rinci dijelaskan pula oleh Thomas Aquinas yang menjadikannya sebagai landasan bagi semua cakupan sistem teologis dan metafisis, yang secara umum dianggap sebagai nilai yang tinggi dalam pemikiran Kristen barat di zaman pertengahan. Namun demikian, sebagian orang Kristen juga ada yang menentang teori Thomas Aquinas ini.


Lebih lanjut, karya-karya Yunani klasik yang dikenal di Eropa barat setelah pendudukan Ottoman atas Constantinople pada tahun 1453 Masehi dan mengalirnya ilmuwan-ilmuwan timur menuju ke barat. Walaupun demikian, agaknya tidak ada peniruan penuh terhadap pemikiran Yunani dari timur ini. Kesemerawutan Pembaharuan di abad enam belas, kemungkinan cenderung memfokuskan pemikiran kepada teologi; dan sejak abad tujuh belas bermunculannya gerakan-gerakan pemikiran baru yang amat mendalam.

Sumber:
TITIK TEMU ISLAM DAN KRISTEN
Persepsi dan Salah Persepsi

William Montgomery Watt
Penerjemah: Zaimudin
Back To Top